Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan

Minggu, 19 Oktober 2014

Tedong Helena

Oleh Denny Prabowo


diasporaiqbal.blogspot.com
Lantang-lantang[1] telah didirikan. Sambung-menyambung. Mengapit tongkonan[2], rumah adat serupa perahu besar itu seolah matahari bagi bangunan-bangunan sederhana yang tersusun dari bilah-bilah bambu. Sanak saudara serta para kerabat berdatangan. Mengisi lantang yang telah disediakan. Menyerahkan bahan makanan yang dibutuhkan selama upacara sebagai wujud partisipasi.


Helena Rambulangi tersenyum. Memandang tedong bonga[3] miliknya tertambat pada simbuang batu[4] peninggalan masa silam. Kerbau setengah albino itu berjumlah lima. Sisanya kerbau biasa. Babi-babi miliknya masih menghuni kandang. Semua akan dikorbankan. Untuk mengantarkan arwah Ambe’[5] tercinta menuju puya[6]. Manusia hanyalah pinjaman dunia yang dipakai untuk sesaat. Sebab, di-puyo-lah negeri yang kekal. Di sana pula akhir dari perjalanan hidup yang sesungguhnya.

Helena tersenyum membayangkan petak-petak sawah yang luasnya berhektar-hektar tak ternilai. Tedong-tedong[7] yang tinggal di peternakan Ambe ratusan jumlahnya. Belum lagi babi-babi. Setangah dari seluruh kekayaan orang tuanya itu akan segera menjadi miliknya, seusai rangkaian upacara Rambu Solo’[8] diselenggara.

Tak seorang pun dari ahli waris yang mampu menandingi Helena. Tidak Alius, tidak juga Damen—kedua kakak kandungnya. Setengah lebih dari pengeluaran untuk Rambu Solo’ ini disumbang olehnya. Untuk mendapatkan hasil yang besar, dibutuhkan umpan yang besar pula. Bayangkan saja, lima ekor tedong bonga, masih ditambah beberapa tedong biasa, serta beberapa ekor babi!

Sebagai keturunan bangsawan tak bisa sembarangan menggelar upacara pemakaman. Jika upacara tidak sesuai dengan aluk[9], roh mendiang tak bisa mencapai puyo. Jiwanya akan tersesat.

Satu bulan setelah menerima surat dari Alius, kakak keduanya, tentang kematian Ambe, Helena kembali ke kampung halamannya di Ke’te Kesu’. Delapan tahun lebih Helena meninggalkan rumah. Ia masih terkenang murka Ambe. Ketika kembali ke rumah bersama seorang lelaki Bugis bernama Mappangewa, teman kuliahnya di Universitas Hassanudin.

”Helena mencintainya, Ambe...”

”Tak bisa, Ambe sudah berjanji pada Tato’ Denna’ untuk menikahkan kau dengan anak laki-lakinya!”

”Tapi, Ambe...” ragu Helena berucap, ”Helena sedang mengandung benihnya.”

Mata Ambe membeliak. Tak sanggup berucap. Tubuhnya menjelma batang kayu. Geramahnya beradu, saling bergesekan, menahan api yang menyekam dalam dada. Sebentar saja api itu siap membakar Helena beserta lelaki yang datang bersamanya. Indo’[10] hafal sekali dengan tabiat suaminya. Dia segera mendekati Helena. Indo’ sadar, air matanya tak akan cukup memadamkan bara yang berdiam di dada suaminya.

“Sebaiknya kau tinggalkan rumah ini segera.” Berat dia berucap. Helena anak bungsu kesayangannya. Tapi hanya itu jalan keluar yang melintasi kepalanya. Hati Ambe batu. Tak mudah luluh oleh air mata. Dibutuhkan waktu lama untuk melubanginya.

Hanya satu tahun setelah kepergiannya, Indo’ tutup usia. Ibu mana yang mampu berpisah dari putri kesayangannya? Helena tak pernah mendengar kabar kepergian ibunya. Mappangewa membawanya ke Jakarta. Kabar kematian Indo’ baru diketahui lima tahun setelahnya. Suatu ketika dia bertemu dengan teman main semasa kecilnya di sebuah galeri di Jakarta. Kerinduan pada kampung halaman yang mengantarkan Helena menyambangi pameran ukir asal Tana Toraja. Dia melihat beritanya dari layar kaca dan membacanya di koran-koran. Tentang Mayanna, seorang lelaki Toraja yang akan diundang ke Jakarta untuk memamerkan hasil ukirannya. Dari teman mainnya itu, dia mengetahui kabar kematian ibunya.

Helena hanya bisa meratap ketika itu. Mappangewa hanya seorang wartawan lepas, yang sesekali suka menulis cerpen di surat kabar. Sedang dirinya hanya seorang guru sekolah dasar negeri yang gajinya tak seberapa. Untuk hidup sehari-hari mereka harus mengencangkan ikat pinggang. Cicilan rumah di pinggiran kota Jakarta menguras seluruh penghasilan mereka. Tak cukup tabungan untuk pulang ke Toraja menjenguk erong[11] tempat jasad ibunya dibaringkan pada dinding tebing kapur.

***

Dua ekor kerbau digiring ke tengah lapangan upacara. Seorang pawang merapal mantra-mantra. Menempelkan mata pisau pada leher kerbau. Sebelum tangannya bergerak penuh perhitungan. Hanya dalam hitungan detik saja kerbau itu tumbang menggelepar dengan leher mengangga menyembur darah. Suara lenguh panjang. Serupa erang. Lalu terdiam.

Tak lama berselang. Ma’pasa’ Tedong[12]. Kerbau-kerbau yang telah disepakati oleh keluarga untuk dikorbankan dikumpulkan di halaman tongkonan. Kerbau-kerbau itu kemudian diarak berkeliling kampung sebanyak tiga kali.

Helena tersenyum memandangi tongkonan dari anak tangga terbawah. Rumah panggung itu tampak anggun. Atapnya serupa perahu. Menjulang ke langit. Pada bagian depan tongkonan, tandun-tanduk serta kepala kerbau tersusun rapi. Sebentar lagi akan bertambah jumlah setelah berakhirnya upacara. Tanduk-tanduk kerbau miliknya yang akan dikorbankan untuk mengantar Ambe menuju puyo, siap menambah wibawa kebangsawanan keluarganya. Dan semuanya itu akan diwariskan kepadanya beserta setengah dari kekayaan peninggalan Ambe.

Hidup memang butuh pengorbanan. Bertahun-tahun hidup di perantauan tanpa sanak keluarga, Helena tahu betul arti kata itu—pengorbanan. Ia memang tidak menyesal karena sudah menikah dengan Mappangewa. Apalagi selepas merampungkan pascasarjana di fakultas ilmu budaya, suaminya memiliki profesi tambahan sebagai dosen sastra di beberapa universitas negeri maupun swasta di Jakarta. Meski Helena masih saja menjadi pengajar di sekolah dasar, mereka sudah memiliki rumah sendiri.

Tapi rumah saja tak cukup. Anak mereka yang kedua sudah mulai masuk sekolah. Pasti membutuhkan banyak biaya. Sepeda motor yang baru lunas kreditnya sudah dijual. Tapi hasil penjualannya hanya cukup untuk biaya pulang ke kampung halaman, membeli beberapa ekor babi. Helena tak mungkin bermimpi mendapat bagian warisan terbanyak hanya dengan menyumbang beberapa ekor babi saja.

”Bagaiman kalau kita jual rumah kita?”

”Lalu kita mau tinggal di mana?”

”Kita bisa mengontrak rumah untuk sementara.”

Mappangewa tak membantah usul istrinya. Meski tak terlalu setuju. Hanya seminggu rumah mereka sudah banyak yang menawar karena lokasinya yang cukup strategis. Kepada penawar tertinggi, Helena melepas rumah mereka. Dia tak mau menunggu lama.

Dan di sinilah Helena kini. Di kampung halamannya. Suami dan kedua anaknya tak turut serta. Menghemat biaya perjalanan. Kalau sudah harta warisan digenggaman, Helena akan mengirimi mereka uang untuk menyusulnya.

Malam semakin larut. Ritual demi ritual telah dilewati. Tiba saatnya Ma’tunda[13]. Sebuah ritual membangunkan arwah yang selama satu bulan menjadi tomebali puang[14]. Awan pekat kembali menyelubung wajah-wajah sanak saudara serta para kerabat terdekat. Termasuk Helena. Sepasang matanya mengabut. Terkenang dia pada masa kecilnya. Ketika Ambe suka mengajaknya bermain-main di pematang sawah. Menyaksikan para petani menggarap sawah-sawah miliknya yang sangat luas. Atau membawanya bermain-main di atas punggung anak kerbau di peternakannya.

Suara lesung bergeman bersahut-sahutan. Tangan-tangan kaum wanita tua mahir memainkan bambu menumbuk padi-padi pilihan di dalam lesung. Jasad Ambe dipindahkan dari rumah duka, untuk disemayamkan di tongkonan semalaman. Peti mati seberat 100 kilogram diangkat bersama-sama. Hati-hati mereka meniti tangga. Menyatukan kembali arwah Ambe dengan arwah leluhur.

***

Sinar matahari pukul sembilan pagi menghambur ke wajah Helena, ketika jendela-jendela di rumah kediamannya dibuka. Helena memicingkan kedua matanya. Semalaman ia terjaga di kamarnya, meski tak turut menjaga jasad Ambe. Banyak yang menjejal ruang di kepala. Pertemuannya dengan anak lelaki Tato’ Denna menjelma bayang-bayang. Silih berganti dengan wajah suami dan kedua putranya di Jakarta. Sejak berada di kampung halamannya, belum sekali pun Helena merasakan tidur serupa bayi. Keinginan yang hanya mungkin dia penuhi selepas upacara Rambu Solo’ tuntas digelar. Saat seluruh ahli waris dikumpulkan, untuk menerima bagian harta peninggalan Ambe.

Ramai suara di luar rumah. Helena beranjak dari kamarnya. Sudah tiba waktu memindahkan jasad Ambe ke dalam alang[15] yang berada di bawah tongkonan. Helena bersiap seadanya. Tak mau ketinggalan.

Erong berbentuk perahu itu diturunkan dari tongkonan. Tarian penghormatan. Sorak sorai bergema. Warga bahu-membahu memanggul beban di pundak mereka. Lamba-lamba[16] dibentang, menjadi penunjuk ke mana langkah harus diayun untuk sampai ke alang. Sebagian mengusung tau-tau[17]. Berjalan di depan. Helena seperti melihat sosok Ambe hidup kembali pada boneka kayu yang didandani persis serupa Ambe ketika masih arwah berdiam dalam jasmani.

Dalam keramaian. Sudut mata Helena menangkap sesosok wajah. Lelaki itu melempar senyum ke arahnya. Matanya mengedip. Helena tertunduk. Membuang tatapannya ke tempat lain. Sesekali masih mencuri pandang ke arah lelaki itu. Dia mengenali lelaki itu sebagai putra Tato’ Denna. Lelaki keturunan Ne’ Sando[18] yang dulu pernah hendak dijodohkan kepadanya.

Bayang-bayang yang kerap hadir ketika kegelapan memeluk jiwa-jiwa yang letih, sejak dia berdiam di kampung halamannya, mewujud seketika. Terkenang dia pada pertemuannya dengan putra Tato’ Denna sebulan lalu. Ketika baru saja dia tiba di Rantepao. Seorang lelaki menepuk pundaknya dari arah belakang. Tersenyum takjub. Seperti tak percaya pada penglihatannya. Berkali-kali lelaki itu menggeser letak kaca matanya. Berusaha meyakinkan diri.

”Helena?” akhirnya dia membuka suara.

Helena tak terlalu mengenali. Sampai lelaki itu memperkenalkan diri sebagai putra Tato’ Denna. Helena teringat dengan perjodohannya. Masa lalu kembali menjelma layar lebar. Sepotong adegan tergambar di sana. Ketika dirinya dan Mappangewa mendapat murka Ambe.

Jangan-jangan...

”Kau tepat, jika mengira aku lelaki yang dulu pernah hendak dijodohkan denganmu.”

”Maaf, aku tak pernah diberitahu Ambe tentang perjodohan kita,” ucap Helena. Agak canggung. Seperti merasa bersalah. Lelaki itu malah tertawa.

”Kau hanya sendiri?” tanyanya setelah tawa mereda, ”Keluargamu tak kau ajak serta?”

”Suamiku tak bisa mengambil cuti. Anak-anakku tak bisa meninggalkan pelajarannya.”

”Mari kuantar ke rumahmu.”

”Aku mau menjenguk makam Indo’ dulu.”

Lelaki itu mengambil travel bag dari tangan Helena. Menyimpan di bagasi belakang, sebelum membukakan pintu mobilnya. Helena masuk ke dalam. Aroma lemon menyerbu lubang pernafasannya.

”Kau sudah berkeluarga?” tanya Helena setelah lelaki itu duduk di belakang kemudi.

”Kau pasti tak akan percaya kalau kukatakan aku belum beristri karena masih mengharapkan dirimu.” Lelaki itu melirik ke arah Helena. Seperti mencari tahu reaksi Helena, setelah mendengar jawaban darinya.

Helena berusaha bersikap biasa-biasa saja. Meski sebenarnya dadanya mulai berdetak tak beraturan. Lelaki itu memang sulit untuk diabaikan. Wajahnya. Sikap ramahnya. Mobil yang dikendarainya. Dia memiliki segala yang diidamkan oleh perempuan: kemapanan. Dan lelaki itu baru saja mengatakan masih mengharapkan dirinya.

Helena teringat pada Mappangewa. Pada anak-anaknya. Pada rumahnya yang terpaksa harus dijual demi membiayai upacara Rambu Solo’. Hasil penjualan rumah itu hanya cukup untuk membeli dua ekor tedong bonga ukuran sedang. Padahal Helena menginginkan bagian terbesar dari warisan ayahnya. Helena seperti menemukan jalan keluar. Sekali lagi lelaki itu melirik ke arah Helena. Sambil tersenyum. Sekali ini Helena menanggapi senyum lelaki itu. Bahasa tubuh mereka saling bicara. Bertahun-tahun hidup di perantauan, Helena tahu betul arti sebuah pengorbanan. Dia berharap Rambu Solo’ bisa menjadi pijakan awal. Merubah roda nasibnya. Dia menginginkan kehidupan yang lebih baik bagi keluarganya. Dan anak lelaki Tato’ Denna itu seolah memberi segumpal harapan.

***

Siang itu. Terik matahari menyengat kulit kepala. Tak surut antusias warga menyaksikan Mapasilaga Tedong[19]. Kerbau-kerbau terbaik disiapkan untuk diadu. Salah satunya milik Helena. Orang-orang menyiapkan taruhan. Melupakan sejenak kedukaan. Helena larut dalam kegembiraan.

Tiba giliran tedong Helena ditarik ke tengah arena. Bantu Pako nama tedong Helena, salah satu pemberian anak lelaki Tato’ Denna. Berkat lelaki itu, Helena bisa bermimpi mendapatkan bagian terbesar harta peninggalan Ambe. Lima tedong bonga, beberapa tedong biasa, masih ditambah beberapa ekor babi. Semua didapatkannya dengan hanya memberikan setengah dari hasil penjualan rumahnya.

Suara tanduk saling beradu. Kerbau-kerbau itu seolah tak hirau pada hiruk pikuk penonton. Debu mengepul ke udara. Helena tertawa menyaksikan Bantu Pako menggasak lawannya hingga tak berdaya. Terbirit melarikan diri ke tengah-tengah sawah. Berkelebatan masa depan di kepalanya. Dengan harta peninggalan Ambe, dia bisa membangun kehidupan yang jauh lebih baik di Jakarta. Helena teringat pada Mappangewa. Pada masa depan anak-anaknya. Roda nasib segera akan berpihak kepadanya.

Hingga detik berakhirnya ritual adu kerbau itu, Helena belum mengetahui, jika seluruh sawah serta peternakan Ambe telah berpindah tangan. Ketika Indo’ jatuh sakit, Ambe menggadaikan seluruh hartanya kepada Tato’ Denna guna biaya pengobatan istrinya. Sisanya habis untuk pelaksanaan ritual Rambu Solo’ untuk mengantarkan arwah istrinya menuju puyo. Sedang Helena masih menyisakan janji untuk beberapa kali lagi bertemu dengan anak lelaki Tato’ Denna di sebuah tempat paling rahasia. Begitulah cara Helena mendapatkan lima tedong bonga, beberapa tedong biasa, serta beberapa ekor babi, dengan hanya memberi setengah dari hasil penjualan rumahnya. Hidup memang butuh pengorbanan. Bertahun-tahun tinggal di perantauan tanpa sanak keluarga, Helena tahu betul arti kata itu—pengorbanan.



Rumah Cahaya Depok, 17/08/06 20:52


Catatan:


[1] Rumah-rumah bamboo didirikan saat upacara Rambu Solo’
[2] Rumah adat suku Toraja berbentuk seperti perahu, selalu menghadap ke arah utara
[3] Kerbau setengah albino memiliki nilai ekonomis tinggi
[4] Menhir yang konon ditancapkan pertama kali Th. 1657. Ketika itu ratusan ekor kerbau dikurbankan untuk upacara pemakaman keturunan Dinasti Rante Kalimbuang.
[5] Bapak
[6] Nirwana atau surga
[7] Kerbau-kerbau
[8] Upacara pemakaman, sering juga disebut pesta kematian
[9] Ajaran atau tata cara peribadatan
[10] Ibu
[11] Peti mati atau wadah mayat
[12] Ritual mengarak kerbau-kerbau yang akan dikorbankan pada acara Rambu Solo’
[13] Ritual Membangunkan arwah
[14] Roh penjelmaan dari jiwa manusia yang telah meninggal
[15] Lumbung padi
[16] Kain merah
[17] Patung kayu berwujud orang yang meninggal dunia
[18] Dukun adat
[19] Ritual adu kerbau

Sumber: Loktong, Jakarta: Menpora-CWI, 2007



Selasa, 14 Oktober 2014

Hari Pertama Sekolah

Oleh Donald Ducky

Bruk!
“Kalo jalan liat-liat dong!”
“Punya mata nggak sih?!”
“Sorry…” Aku mengulurkan tangan ke arah seorang gadis yang baru saja kutabrak. Gadis itu menepisnya. Berusaha bangkit. Aku hanya meringis.
Seperti tak puas dengan permintaan maafku, kedua temannya terus saja memaki-maki aku. Aku hanya membalas makian itu dengan senyum, sebelum ketiganya berlalu meninggalkan aku. “Hm, cantik juga…”
“Mas Denny?” tegur seorang cewek seusia kakak perempuanku.
Aku merengut. “Nama depan saya bukan Tomas, Mbak.”
Cewek yang tubuh suburnya berbalut sweater itu tersenyum nyaris tertawa. “Iya deh. Hm… Denny.”
“Nah, begitu kan lebih asyik. Masa anak seimut saya disamain sama Mas-mas tukang becak?”
Kembali cewek bertubuh subur itu memamerkan deretan giginya yang cukup pantas dijadiin model pasta gigi atau sikat gigi. “Mbak Dian sudah menunggu di bangku VIP.”
“Wah, Mbak curang nih!”
“Curang?” cewek itu mengerutkan keningnya, “curang kenapa?”
“Mbak tau nama saya, tapi saya nggak dikasih tau nama Mbak.”
“Panggil saja Mbak Ratna. Saya asisten pribadinya Mbak Dian.” Katanya sambil memamerkan gigi-giginya yang putih itu.
“Nah, gitu dong. Jadi kalo polisi nanya, saya bisa jawab siapa orang yang membawa saya.”
“Polisi?” kembali Mbak Ratna menampakkan raut bingung.
“Siapa tau aja Mbak Ratna mau nyulik saya.”
“Hahaha…” kali ini dia nggak mampu menahan tawanya, “Udah, ah, becandanya!”
“Filmnya udah mulai ya?”
“Belom. Sebentar lagi.”
“Papa sama Mama datang juga.”
“Iya. Mereka semua ada bersama kakakmu di bangku VIP.”
Mbak Ratna segera menggiringku ke teater satu tempat film yang diproduksi Mbak Dian diputar.
***
“Huuuaaaa…” aku membuka mata. What? Udah jam 7 lewat!
Buru-buru aku meninggalkan kasur busa yang aku gelar di lantai kamar kosku. Melesat cepat dengan satu tujuan: kamar mandi! Sepuluh menit kemudian aku sudah keluar dari ruangan berukuran 2 X 2 meter itu.
“Uh… di mana sih seragam sekolahku?”
Aku memang belum sempat merapikan barang-barangku, sejak menempati kamar kos ini. Mungkin masih di dalam keril? Yup! Ketemu juga. Aku sama sekali gak membutuhkan waktu lama untuk mengenakan seragam itu, sebelum berdiri di muka cermin, merapikan rambutku yang mulai menyentuh pundak. Beres! Aku tersenyum memandangi penampilanku.
Hari pertama masuk ke sekolah, harus memberikan kesan yang luar biasa.
Aku menyambar jaket jeans yang tergantung di kapstok belakang pintu. Memeriksa katung depannya, apakah kunci Vespaku masih ada di sana. Ternyata memang masih di sana. Aku membuka pintu kamar.
“Wah, rajin sekali Mas… pagi-pagi buta begini sudah mau berangkat ke sekolah?” tergur Pak Sastro, pemilik kamar kos yang kutempati itu sedang menikmati sarapan pagi di beranda depan rumahnya.
Di depok jam tujuh masih gelap ya, Pak?” aku mendongak menatap langit.
“Huahaha…” pria paro baya itu terbahak sampai makanan yang sedang dikunyahnya berhaburan keluar dari mulutnya. “Wah… kamu suka bercanda, rupanya…”
“Lho, jam dinding di kamar saya…”
“Batrainya belum sempat diganti sejak penghuni yang lama keluar tiga bulan yang lalu,” terangnya, “Sekarang baru setengah enam.”
Aku hanya bisa garuk-garuk kepala. Sebelum melangkahkan kaki kembali ke kamar.
“Mau ke mana toh? ndak mau ngeteh-ngeteh dulu?”
Mau Subuhan dulu, Pak!” kataku sambil tersenyum.
“Kalau sudah selesai jangan langsung berangkat ya, temani bapak ngeteh dulu.”
Aku tersenyum mengangguk. Keramahan Pak Sastro membuat aku serasa di rumah Abah di Lembang. Sedang apa ya beliau? Biasanya jam segini Abah udah berangkat ngontrol kebun tehnya.
Papa yang memaksa aku pindah sekolah. “Kamu harus bantu-bantu Papa. Kamu kan anak laki Papa satu-satunya.”
Kan ada Mbak Dian, Pa,” ujarku, “Denny kan masih sekolah. Tar malah nggak fokus lagi…”
“Justru karena kamu masih sekolah,” kata Papa, “Tahun depan Mbakmu itu mau melanjutkan kuliah ke luar negeri. Dapat beasiswa dari salah satu Universitas ternama di London.”
“Wah, hebat banget!”
“Kalau kamu mau hebat, harus banyak belajar dari dia.”
“Oke deh, Pa!” kataku menyetujui, “Tapi ada syaratnya.”
“Sama orang tua sendiri pakai syarat-syaratan segala.”
“Denny nggak minta mecem-macem, Pa. Denny cuma mau pindah kalo dibolehin kos.”
“Tinggal di rumah sendiri kenapa sih?”
“Nggak seru, Pa. Denny kan mau belajar mandiri.”
“Iya deh, iya…”
“Satu lagi.”
“Apa?”
“Tabungan Denny nggak cukup nih buat beli Vespa tua.”
“Ya, udah. Uang tabungan kamu jangan diotak-atik. Nanti Papa belikan motor Vespa. Papa kira kamu mau beli mobil…”
Begitulah. Akhirnya aku terdampar di kota Depok ini.
Selepas menikmati teh hangat dan pisang goreng buatan Bu Sastro, aku meluncur tenang di aspal jalanan kota Depok. Kota ini lumayan semerawut. Yah, hampir nggak ada bedanya sama Bandung, kota tempat tinggalku terdahulu, kecuali cuacanya yang nggak bisa dibandingin sama Bandung yang suejuk abis!
Eh, alamat sekolah aku di mana ya?
“Wah, aku lupa tanya!”
Aku menepikan Vespaku. Aku merasakan getaran di saku jaketku. Ada SMS masuk. Dari Mama!

Apa kabar anak ganteng?
Sender: Mama 0811900003
Sent: 10 Jan 2005 06:45:53

Aku menekan tambol call. Sesaat kemudian terdengar nada sambung.
“Assalamu alaikum, Ma!”
“Waalaikum salam,” jawab Mama, “Kamu udah sarapan?”
“Teh hangat plus pisang goreng buatan ibu kos, Ma! Mereka baik sekali.”
“Wah, syukurlah. Mama jadi tenang.”
“Denny lagi jalan ke sekolah. Tapi Denny lagi bingung, Ma…”
“Bingung kenapa?”
“Alamat sekolah baru Denny di mana ya?”
“Ya, ampun!”
“Hehehe…” Aku meringis.
Sebentar Mama tanya sama Papa, ya.”
“Lho, emang Mama gak tau?”
“Mama juga lupa…” terdengar suara tawa Mama di seberang sana.
Dasar, Mama sama anak sama saja. Sama-sama pikunnya!
***
Vespaku berhenti di depan sebuah gerbang sekolah. Di atasnya ada plang besar bertuliskan SMU Favorit. Jadi ini sekolah baruku. Hm… lumayan besar juga. Lebih besar dari sekolah lamaku di Bandung.
Tin… tin… tin…
Suara klakson mobil seperti anjing penjaga yang menyalak galak meminta aku untuk segera enyah. Aku menoleh. Bumper sedan mewah itu hanya bebarapa centi saja dari Vespaku. Kulihat pengendaranya melambai-lambai tangan meminta aku segera enyah dari hadapan mereka.
“Huh, sombongnya!”
Traaannnnkkk… Traaaannnkkk… kumainkan gas motorku, membiarkan buangan asap kenalpotnya menyembur, menciptakan kabut tebal. Orang-orang membekap telinganya. Knalpot Vespa tahun tua memang lebih rombeng dari kaleng rombeng sekalipun. Seorang satpam memperingatkanku. Aku hanya tersenyum. Mengangguk.
Setelah puas membuat pengendara sedan mewah berteriak-teriak dongkol, aku baru angkat roda vespa dari gerbang sekolah itu. Satpam yang tadi menegurku menunjukkan tempat motor-motor di parkirkan. Hampir kebanyakan motor-motor mewah keluaran tahun muda. Vespaku jadi kelihatan seperti seorang kekek tua yang centil, karen warna merahnya cukup membuatnya jadi pusat perhatian.
“Hai!” tegur seorang cowok berperawakan kucel, memarkir motor Vespanya yang penuh airbrush, di sebelah Vespaku. “Tahun berapa?”
“Gue?”
“Motor vespa lo!”
“Oh… tahun 65,” jawabku, “Punya lo?”
“Lima tahun lebih muda dari motor lo.” Matanya seperti meneliti aku, “Anak baru ya?”
“Lho, kok tau?”
“Ya tau lah!” katanya lagi, “Cuma anak baru yang pake seragam abu-abu pas hari senin.”
Aku melihat celana panjang kotak-kotak yang dikenakannya. “Tapi bisa aja kan celana gue lagi dicuci?” elakku.
“Persoalannya, gak ada anak sekolah sini yang bawa Vespa tuir selain gue.”
Aku tersenyum, “Nama gue Denny!” kataku menyodorkan telapak tangan.
“Gue Rivo.” Cowok itu menyambutnya. “Di kelas berapa?”
“Belom tau.”
“Udah di kelas gue aja!” tawarnya, “ceweknya cakep-cakep!”
Seorang cewek berambut ikal turun dari sedan mewah yang tadi kukerjai. Lho… itu kan… wah, ternyata dia sekolah di sini!
“Kalo cewek itu di kelas berapa?” tunjukku ke arah cewek cantik yang kini tampak asyik berbincang dengan kedua temannya, sebelum mereka melangkahkan kaki dan menghilang di tikungan. Kulihat sedan yang dikendarai oleh sopirnya meninggalkan pakarangan sekolah.
“Dia anak kelas I A.”
“Sekelas sama elo?”
“Nggak. Kelas gue di sebelahnya.”
Di kelas lo ada yang lebih cantik dari dia?”
“Wah, dia mah cewek tercantik di sekolah ini!”
“Namanya?”
“Ela Aurora Alexandra.”
“Oke, sampe ketemu ya!” kataku menepuk pundak Rivo, sebelum melangkahkan kaki menjauhi cowok kucel itu.
“Mau ke mana?” panggil Rivo.
“Ke kelas 1 A!”
Masih sempat kulihat Rivo tersenyum menggeleng-gelengkan kepala.
Hmm… ini dia kelasnya. Sebuah papan kecil bertuliskan Kelas I A melekat di bagian atas pintu kelas itu. Aku melangkahkan kaki masuk ke dalamnya. Rupanya penghuni kelas ini cukup rajin juga. Sudah banyak siswa yang hadir di sana.
“Halo semua!” sapaku sambil melambaikan tangan ke seluruh penghuni kelas itu. Mereka mengerubungi aku dengan tatapan penuh tanya dan sedikit curiga. Aku celingukan mencari-cari cewek bernama Ela Aurora Alexandra. Di mana menjanya?
Mataku berkeliling mencari bangku yang masih tersisa.
“Di pojok dekat jendela gak ada yang dudukin,” kata seorang gadis berwajah agak manis berambut agak kecoklatan sambil agak tersenyum ke arahku, menunjuk bangku di di belakang tempat duduknya.
Aku tersenyum sebelum melemparkan tas di atas meja.
“Anak baru ya?”
“Kok nuduh?” Aku mengempaskan tubuh di bangku sebelah gadis yang kupikir agak tomboy itu. “Nama gue Denny!”
“Siapa?” tanya gadis itu.
“D-e-n-n-y,” ejaku, “Denny!” ulangku menegaskan.
“Yang nanya?”
Aku tersenyum kecut. Kena deh gue… cewek yang kupikir agak tomboy itu tertawa terbahak.
“Nama lo siapa sih?” tanyaku kemudian.
“Mau ngebales nih?” masih menyisakan tawa.
Aku menggeleng. “Gue nggak pendendam kok. Apalagi sama cewek manis kayak elo!”
“Gula kaleee manis!” katanya berseloroh, “Gue Anggun!”
“Hah?” mataku membulat.
“Elo mo bilang anggota ragunan kan?!” cewek itu mengepalkan tinjunya.
“Orang Depok demen nuduh, ya?” kataku, “Gue cuma heran aja, masa cewek tomboy namanya Anggun. Gak cocok ah.”
“Cocoknya apa?”
“Kipli!” ujarku, disusul tawa. Sebuah tinju ringan mendarat telak di lengan atasku.
“Tadi lo bilang anak Depok demen nuduh,” kata Anggun setelah tawaku mereda, “Emang elo anak mana?”
“Gue lahir di Jakarta. Tapi sejak SMP sekolah di Bandung. Abis gue hopeless sama Jakarta yang panas.”
“Terus, kenapa lo pindah ke mari?”
“Bokap gue yang maksa. Dia gak tahan jauh-jauh dari anaknya yang keren ini.”
“Huuuu! Narsis abis lo.”
Suara bel mengudara. Para siswa segera berhamburan ke kelasnya masing-masing.
“Minggir lo!” kata Anggun mengusirku dari bangku yang tengah kududuki. Seorang gadis tersenyum berdiri di belakang tubuhku. Aku segera menyingkir ke meja di belakang tempat duduk mereka.
There she is! Aku benar-benar dibuat terpana oleh gemulai langkah Ela Aurora Alexandra bersama ketiga temannya.
“Awas nanti ilernya netes!”
“Hah?” aku buru-buru memeriksa ujung mulutku. Tak ada liur yang menggantung di sana. Kulihat Anggun dan teman sebangkunya terpingkal. “Huh! Nggak lucu!”
Kulihat Ela memalingkan wajahnya ke arahku. Tatapannya menyiratkan sebuah tanya. Anak mana nih nyasar ke sini? Begitu kali kalo diterjemahin ke dalam bentuk kalimat. Salah seorang temannya seperti menyadari sesuatu. Dia mencolek lengan Ela, sebelum membisikkan sesuatu ke telinganya. Lalu ketiganya berjalan menghampiri mejaku.
“Elo kan yang waktu di bioskop…”
“Nabrak elo!” sambarku memutus kalimat Ela.
“Mau apa lo di sini?”
“Kenalin,” Aku mengulurkan tangan, “Gue anak baru di kelas ini. Nama gue Denny.”
Ela tidak segera menyambut uluran tanganku. Dia seperti berpikir sesuatu, sambil memandangi diriku dari ujung rambut sampai ujung sepatu. “Hm… boleh juga,” katanya sambil tersenyum ke arah kedua temannya, sebelum kembali menatapku, “Oke deh Denny, elo udah tau kan nama gue?”
Aku mengangguk-angguk sebelum menarik tanganku kembali. Hm… sombong juga neh anak… Aku membalas senyum ketiga cewek itu. Senyum yang menyimpan sejuta makna. Lihat aja nanti!
Seorang pria berkaca mata berambut jarang masuk ke dalam kelas. Suasana menjadi hening. Kayaknya guru killer nih. Aku mencolek bahu Anggun. Cewek tomboy itu menoleh takut-takut.
“Siapa?” kataku berbisik.
“Pak Andi Suhandi.”
“Galak ya?”
“Banget!”
Baru saja Anggun selesai mengucapkan itu, sebuah spidol meluncur deras ke arahku. Untung aku pernah diajarin silat sama Papa, jadi hup! Spidol itu berhasil aku tangkap. Tapi… Pletak! Sebuah penghapus mampir di jidatku. Aduuuuhhh…Guru killer itu tersenyum penuh kemenangan.
Aku berinisiatif mengembalikan spidol dan penghapus itu ke meja Pak Andi.
“Ternyata kamu nggak sehebat yang Bapak bayang kan. Tapi lumayan…” Pak Pak Andi menepuk bahuku, “Baru kamu seorang yang bisa mengkap lemparan Bapak.”
Aku hanya meringis saja.
“Sepertinya… bapak tidak pernah melihat kamu sebelumnya?”
“Saya anak baru, Pak,” terangku, “Pindahan dari Bandung.”
Pak Andi mempersilahkan aku duduk kembali. Bel tanda selesainya jam pelajaran Pak Andi hampir habis, saat seorang lelaki berkemeja biru motif garis-garis menapakkan kakinya di kelas, dengan sebuah map di tangannya.
“Maaf mengganggu,” dia memohon ijin pada Pak Andi.
“Oh, silahkan. Jam pelajaran saya sudah selesai.”
Lalu lelaki berkemeja itu menatap ke arah bangku murid. “Ada anak baru yang namanya Denny?”
Semua mata segera menyerbu ke arahku. Aku menoleh ke belakang seolah mencari-cari sesuatu, sebelum menyadari kalau yang mereka tatap itu adalah aku. Hehehe…
“Saya Pak!” Aku mengacungkan telunjuk ke udara.
“Kelas kamu bukan di sini. Tapi di kelas sebelah. Kelas I B.”
“Yah, saya udah terlanjur betah di sini.”
“Waduh… gimana ya? Habis Wakasek bidang kesiswaan sudah terlanjur menempatkan kamu di kelas I B.”
Dengan enggan kulangkahkan kaki meninggalkan kelas, setelah sebelumnya mengucapkan kata-kata pada anak-anak di kelas itu, “Maaf, sepertinya kalian belum beruntung bisa jadi teman sekelas saya! Gak usah kecewa ya!”
“Huuuuuuu…!!!” seru mereka semua nyaris bersamaan, membuat kelas menjadi gaduh. Aku memutuskan untuk selekasnya angkat kaki sebelum mereka melempariku dengan apa saja!
Rivo langsung tertawa ngakak begitu melihat aku diantar oleh pria berkemeja—yang belakangan baru kutahu bernama Pak Somad yang berkerja di bagian administrasi SMU Favorit itu—ke kelasnya, kelas I B. Dia melambaikan tangannya ke arahku. AKu berjalan menghampirinya.
“Nggak jadi sekelas sama Ela nih?”
Aku hanya tersenyum meringis. “Masih kosong?” Aku menunjuk bangku di sebelahnya.
Ada yang nempatin. Tapi hari ini lagi nggak masuk. Namanya Chirex.”
“Apa?” tanyaku, “Cireng? Kayak nama makanan aja…”
“Chirex! Chirex!” ulang Rivo keki, “Nama sebenernya sih Nurhadiansyah.”
“Kalo meja belakang?” Aku menunjuk meja kosong di belakang bangku Rivo.
“Kosong. Baru kemaren penghuninya mati dibunuh.”
“Hah, yang bener lo?!”
“Tuh, mayatnya masih terkapar di situ!” telunjuknya mengarah ke kolong meja belakangnya. Ada seekor kecoa terkapar tak bernyawa.
“Ah, gue kira beneran…”
“Woi, anak baru!” teriak salah seorang penghuni kelas itu. “Kenalin dong nama lo!”
Aku langsung angkat kaki ke depan kelas. Mempersembahkan senyum termanis pada teman-teman baruku itu.
“Oke, tenang ya semuanya. Kalian siapin aja kertas sama pulpennya. Nanti gue tanda tanganin!”
Suiiing… puluhan pulpen bercampur dengan pinsil melayang ke arahku.

***

Senin, 13 Oktober 2014

Elegi 14 Februari

Oleh Depo

Sesaat setelah aku berhasil menggapai setitik cahaya di ujung lorong itu, aku menemukan seraut wajah berkalang duka, duduk bersimpuh di depan sesosok tubuh membeku. Kamu. Ya. Kamu yang selama dua tahun ini menjadi bagian dari hembusan nafasku. Sebelum… Ah, kulihat sungai mengalir dari ujung matamu. Mungkin hari ini akan menjadi hari terakhir aku melihatmu.
Aku merogoh kantung-kantung masa lalu. Ah, kamu masih ada di situ. Senyumku mengembang mengenang semua hal yang pernah kita lakukan bersama. Saat kamu menjadi hembusan nafasku. Sesuatu yang mungkin tak akan pernah lagi kutemukan setelah hari ini. 
Kita bertemu dua tahun yang lalu. Saat aku berjuang menaklukkan letih dan rasa putusasaku. Saat nafasku satu-satu, meniti setapak yang menanjak, membelah hutan, menyeberangi savana, melintasi danau, merayapi bebatuan di lereng-lereng Semeru.
Aku satu-satunya wanita di antara ketiga temanku yang kesemuanya laki-laki. Sementara kamu hanya seorang diri. Aku memang terbiasa mendaki gunung. Menikmati sentuhan tangan-tangan Ilahi pada pepohonan, bebatuan, riak mata air, kicau burung, lenguh angin, letup kawah dan cakrawala ketika fajar dan senja mementaskan teater jingga, menjadi akhir dan awal kembara hari sang bagaskara. Tapi baru kali itu kulihat seseorang melakukan pendakian seorang diri. Apalagi mendaki ke Mahameru, yang merupakan gunung tertinggi di pulau Jawa. Ah, kamu langsung membuatku kagum saat itu.
Arloji di pergelangan tanganku menunjuk angka 02.00, saat aku dan ketiga temanku meninggalkan Arcopodo, menuju Puncak Semeru. Kulihat kamu berada beberapa langkah di belakang. Butuh waktu tiga sampai empat jam untuk dapat tiba di Mahameru dari Arcopodo yang merupakan batas vegetasi, itu yang dikatakan oleh teman-temanku.
Kabut memagut. Menusuk. Melesakkan butir-butir embun sampai ke tulang. Menggigilkan. Pelan-pelan aku pijaki batuan pasir yang mudah menggelincir. Dan kulihat di belakang, kamu, sesekali terpaksa harus menghindar dari runtuhan kerikil yang kupijaki.
Setelah dua jam berjalan nyaris tanpa istirahat yang berarti, langkahku mulai tertinggal beberapa kaki di belakang ketiga temanku. “Jalan aja terus! Aku gak apa-apa!” aku meneriaki ketiga temanku yang tak sabar menungguku yang mulai kepayahan.
“Air?” kamu tawarkan botol minumanmu kepadaku.
“Wah, kebetulan!” aku ambil botol air mineral dari tanganmu. Lalu bagai huma yang merindukan renik hujan, kutuang sebotol  air mineral ke dalam kerongkongku yang melepuh.
Ups…habis…,” aku meringis menanti reaksi darimu.
Segaris senyum terbit di raut letihmu. Ah, senyum itu… rasanya tak rela kalau harus melupakan senyum itu untuk selamanya. Apakah di sana, aku akan bisa menikmati senyummu itu? Entahlah.
“Lanjut?” tantangmu.
“Siapa takut!” aku menukas.
Lalu kita melanjutkan pendakian.
“Masih berapa lama lagi?”
“Kalau nggak terlalu banyak istirahat, gak lebih dari sejam kita sudah sampai ke Mahameru untuk menyaksikan sunrise.”
“Wah… masih cukup jauh, ya? Ini pendakian pertamaku ke Semeru.”
“Kenapa? Mau nyerah?” godamu
No retread! No surrender!” tegasku
Ada kagum di binar matamu, saat aku mengatakan itu.
“Tapi…”
“Kenapa lagi?”
“Masih punya air?”
“Tenang aja, masih ada beberapa botol lagi.”
Yes! Aman.” Kataku. Ah, lagi-lagi kamu mempertontonkan senyummu itu.
Teja sempurna membakar cakrawala. Menyemburat. Mengurai mega yang arak berarak. Setelah tiga jam lebih berjalan dari Arcopodo, kita berhasil menyinggahi puncak Mahameru, dataran tertinggi di pulau jawa.
Tak ada kata-kata yang keluar dari mulutku. Sebab aku tak menemukan kata-kata yang tepat untuk melukiskan keindahan yang membentang di pelupuk mataku.Tak bedanya dengan kamu. Meski waktu itu kau katakan kepadaku kalau itu merupakan kali kedua kamu menjejakkan kaki di puncak itu.
Dan tanpa kusadari, aku telah berada di dalam dekapanmu. Kita seperti sepasang merpati berhati renjana.
Lucu, memang. Kita bahkan belum saling menyebutkan nama. Padahal, sepanjang sisa pandakian saat itu, kita banyak bertukar cerita. Tapi kita malah lupa saling memperkenalkan nama kita. Kalau saja ketiga temanku yang sudah lebih dulu sampai tidak mengerumuni kita dengan mata-mata yang memeram ribuan tanda tanya, mungkin kita tak akan pernah menyadari kalau kita memang belum saling berkenalan secara resmi. Kita begitu terbawa suasana.
“Eh, so..sori…?” kataku dengan rona muka yang memerah dadu, serupa dengan wajahmu saat itu. Lalu kita sama-sama terjebak dalam kekakuan yang membingungkan. Celetukan-celetulan jahil segera berhamburan dari mulut ketiga temanku.
“Sendirian?” tanya Janu salah seorang temanku yang berwajah oriental, mencairkan kebekuan.
“Berdua dengan porter,” katamu, “dia nunggu di Arcopodo.”
Setelah itu baru kita saling berkenalan. Dan tentunya, tak lupa kita juga saling memperkenalkan nama kita masing-masing. Ha ha ha…
Ah, aku selalu tak mampu menahan tawa setiap kali terkenang awal pertemuan kita…
Aku tak membutuhkan waktu lama untuk menyadari, bahwasannya cinta telah menentukan pilihannya. Kubiarkan kepak sayap-sayap cinta menerbangkan kepingan hatiku yang renjana.
Hanya beberapa saat kamu tiba di rumahmu, kamu menelponku. Aku sendiri yang mengangkan telepon darimu itu. Kamu katakan kepadaku kalau kamu bahkan belum bertemu dengan kedua orang tuamu. Dan seperti tak mau membuang waktu, kau ungkapkan sesuatu yang membuat aku sangat terkejut saat itu. Kamu katakan kepadaku: “Aku mencintaimu!”
Ah, aku langsung membisu. Segera kututup telepon. Ah, kalau saja kamu bisa melihat rona merah di wajahku saat itu. Aku bahkan sampai melompat-lompat kegirangan, sebelum meneleponmu. Dan kukatakan kepadamu, “Aku juga mencintaimu!”
Tak ada kebahagianan yang melebihi kebahagiaan yang kurasakan saat itu. Kalau saja tak ada jarak yang memisahkan kita, Aku akan berlari ke rumahmu. Tapi… pantas gak ya? Ah, kenapa harus nggak pantas. Yang pasti, aku ingin sekali bisa menikmati senyummu itu!
Dan mulai detik itu, kamu adalah bagian dari hembusan nafasku. Hidup di organ paru-paruku. Menjelma udara di sekitarku. Menyatu dalam setiap tarikan nafasku. Kapan pun dan di mana pun aku, selama nafas ini masih berhembus, maka kamu akan selalu ada dalam diriku. Tak peduli ratusan mil jarak yang membentang di antara kita. Kita akan selalu bersatu, sampai Izrail menemukan nama salah satu di antara kita tertulis di atas selembar daun yang jatuh di kakinya.
Dua tahun masa yang bahagia. Kalau kebahagian memang benar nyata adanya. Masa yang hampir sempurna. Kesempurnaan yang tentunya tak akan tersempurnakan kini. Sebab yang tertinggal hanya kegetiran menyaksikan dirimu menangis memandangi seonggok tubuh membeku yang terbujur di hadapanmu.
Semestinya ini hari yang sangat bahagia. Sebab pada hari ini semua orang merayakan hari Kasih Sayang. Mungkin dirasa perlu merayakan hari Kasih Sayang… semenjak negeri ini terkungkung dalam krisis multi dimensi, kasih sayang jadi serupa mimpi-mimpi yang hanya bisa kita nikmati saat tidur malam. Atau kehidupan kini memang layaknya mimpi-mimpi? Kalau iya, aku ingin segera bangun dari tidur dan melupakan mimpi buruk yang sedang kujalani saat ini. Tapi mana mungkin… aku tak mungkin merubah takdir yang telah digariskan.
“Telah kutempuh ratusan mil jarak yang membentang antara Jakarta-Yogyakarta hanya untuk berbagi kasih sayang di hari Kasih Sayang, dengan seseorang yang selama ini menghuni organ paru-paruku, menjelma udara di sekitarku, menjadi bagian dari hembusan nafasku dan menyatu dalam setiap tarikan nafasku. Sebab kau adalah kekasihku.” Begitu yang kau ucapkan di sela-sela tangismu. Dan itu pula yang menjadi keinginanku. Ah, kalau saja kamu bisa mendengarku… tapi kamu tak mungkin mendengarku. Jadi aku tak mengatakan apa-apa kepadamu. Aku hanya diam saja. Sambil menangis. Sambil menangis.
Terkadang keinginan memang tak selalu segaris dengan kenyataan. Kemarin, Aku masih bisa bermain-main dengan bayangan wajahmu. Berharap dia terlambat menjemputku. Aku masih ingin merasakan dirimu seutuhnya, bukan dirimu yang menjelma udara di sekitarku. Aku ingin menyentuh wajahmu dengan jemariku, merasakan desah nafasmu di telingaku, membenamkan tubuhku ke bidang dadamu, lalu kita menyatu dalam setiap tarikan nafas. Seperti Sam Pek- Eng Tay, kita akan menjelma sepasang merpati berhati renjana, bercinta di layar jingga cakrawala ketika fajar memendar dari balik Puncak Mahameru.
Tapi, dia tak mungkin mengundurkannya barang sedetik pun. Karena itu yang telah ditetapkan oleh-Nya. Dia hanya menjalankan apa yang diperintahkan oleh-Nya. Tak mungkin membantah. Karena dia memang diciptakan untuk melakukan tugas itu. Memisahkan nyawa dari raga tiap manusia, ketika telah sampai waktunya tiba.
Ya. Dia yang kumaksud adalah, Sang Maut. Izrail! Hari ini, namaku telah tertulis di atas selembar daun yang jatuh di kakinya. Dua tahun aku telah merahasiakan penyakitku padamu. Sudah lama kanker itu bersarang di otakku. Aku melakukan itu karena tak mau kamu bersedih. Aku tak sanggup melihat telaga matamu mengering. Dan kini, harus kubawa rahasia itu ke liang kuburku.
Depo… akhirnya aku hanya bisa berharap, semoga namaku akan selalu terpahat di kepingan hatimu. Seperti namamu yang akan selalu terpahat di dinding pusara hatiku. Maaf kalau kepergianku yang tanpa permisih, membuat hatimu merengkah luka.
Sudah ya, Depo… Awan hitam telah menyelimuti langit di atas kepala. Hujan sebentar lagi akan tercurah. Seperti airmatamu. Seperti airmataku. Yang akan mengiringi kepergianku. Dan itu tandanya, kamu harus segera menguburku.
Selamat tinggal!



Rabu, 08 Oktober 2014

Monolog di Tepian Senja

Oleh Donald Ducky
Aku bermenung di tepian pantai. Memandang lurus ke garis cakrawala. Melepas angan terbang bersama camar yang melintas. Lalu wajahmu memendar di hamparan layar jingga cakrawala. Matahari perlahan melindap ke balik kaki langit. Sebentar lagi malam datang. Menawarkan kelam. Seperti hatiku. Seperti hatiku. Mengapa senja tak pernah tinggal abadi? Seperti cinta. Selalu saja ada saat yang memisahkan. Adakah di suatu negeri, di mana matahari senja tak pernah tenggelam? Aku ingin pergi ke sana. Mencari cinta yang memang hanya untukku. Hanya untukku. Selamanya. Tapi apa mungkin begitu? Terlanjur kuserahkan hatiku kepadamu. Seutuhnya. Tak bersisa. Ah! Mengapa segalanya selalu datang terlambat kepadaku. Seperti kamu. Ya, seperti kamu.
  Kita bertemu empat bulan yang lalu. Sebuah pertemuan yang tak direncanakan. Sebuah kebetulan yang telah digariskan. Tangan-tangan Tuhan menuntun kakiku meniti tangga. Tergesa. Menuju ruang redaksi di lantai dua. Sudah lama aku tidak main ke tempat itu. Biasanya aku selalu menyerahkan naskah cerpenku melalui e-mail. Entah mengapa, hari itu aku ingin sekali menyerahkannya langsung. Menjelang anak tangga yang terakhir, tanpa sengaja, aku menyenggol tubuhmu. Tasmu terjatuh.
“Ma… maaf?” kataku. Memungut tasmu yang terjatuh dan menyerahkannya kepadamu. Kau hanya tersenyum. Lalu berlalu. Tapi sebelum tubuhmu menghilang di tikungan tangga, kamu sempat menoleh ke arahku. Lagi-lagi kau perlihatkan senyum manismu kepadaku. Dadaku bergetar saat itu.
Aku baru saja ingin melangkahkan kakiku, saat ujung sepatuku menyentuh sebuah benda yang tergeletak di tangga. Dompet? Kupungut benda berwarna biru itu. Kubuka. Ada foto dirimu di sana. Aku segera beranjak menuruni tangga. Mengejarmu. Tapi terlambat. Kau telah menghilang.
Ah, kenapa tidak mencari alamatnya di dalam dompet? Pikirku waktu itu. Kukeluarkan KTP-mu dari dalam dompet. Tiara namamu. Kau tinggal di… Magelang?!? Aku menyeret langkahku. Lemas. Ke mana aku harus mencarimu?
 “Hei, tumben main ke sini?” tegur Mbak Shella, saat melihat aku berdiri di depan pintu ruang redaksi.
“Kangen,” kataku.
“Bawa naskah cerpen?” tanya Mbak Shella lagi. Aku menyerahkan disketku kepadanya. Lalu menceritakan kejadian yang baru saja aku alami. Kuutarakan kebingunganku. Aku tak tahu ke mana harus mengembalikan dompetmu yang terjatuh saat kutabrak.
“Jadi kamu bertemu dengan Tiara?”
“Mbak kenal dia?”
“Dia kan penulis juga seperti kamu.”
“Tapi aku nggak pernah melihat namanya?”
“Kalau dihilangkan huruf A di belakang namanya?”
“Tiar?”
“Ya!”
“Ooo…,” bibirku membulat. “Aku pikir Tiar seorang cowok…”
 “Mbak tahu di mana tinggalnya?”
“Di Magelang.”
“Maksudku, di Jakarta ini dia tinggal di mana?”
“Kenapa nggak kamu hubungi aja handphone-nya?”
 “Mbak punya nomernya?”
***
Mbak Shella memberikan nomor handphone-mu kepadaku. Aku langsung menghubungimu saat itu juga. Lalu kita membuat janji untuk bertemu.
Senja itu, kita duduk di tepian pantai Anyer, di atas hamparan pasir putih yang keemasan ditimpa cahaya matahari. Menikmati keindahan cakrawala ketika jingga menyemburat mengurai mega yang arak berarak. Berbagi kisah. Bertukar cerita. Kita laiknya dua insan yang sudah lama saling mengenal. Padahal, baru kali itu kita bertemu. Di kejauhan, tampak siluet puncak Gunung Krakatau. Kita berjalan menyusuri pantai. Lidah ombak menjilati kaki-kaki kita yang telanjang. Ah… sebuah kemesraan yang hanya akan tinggal menjadi kenangan kini.
Malam itu juga kau harus kembali ke kotamu.
Tapi kisah kita belum berakhir sampai di situ. Jarak yang membentang antara kotaku dan kotamu tak menghalangi kita untuk saling bertukar cerita. Meski jauh, aku tetap bisa merasakan aroma parfum yang meruap dari tubuh mungilmu. Tatapan lembut dari lentik matamu. Segaris senyum yang selalu menghias raut beliamu. Semuanya itu mampu menjelmakan dirimu di dalam diriku. Seperti sebuah cermin.
Aku dan kamu menjadi sangat akrab. Keakraban yang juga tanpa rencana. Terjadi begitu saja. Dari saling bertukar sapa melalui telepon genggam, sampai saling mengingatkan waktu sholat dan istirahat. Lalu cerita mengalir begitu saja. Hiruk-pikuk hari-hari ringan saja, lewat saja. Kau seolah memenuhi kekosonganku. Aku tak memiliki niat terlalu jauh. Hanya kurasakan kelancaran nafas hidup. Kurasakan sukacita waktu dalam setiap kata yang kau kirimkan ke telepon genggamku.
Tanpa kusadari, aku mulai menanam harapan di ladang ketidakpastian. Salahkah aku memiliki harapan? Sebuah harapan, mampu membuat orang yang putus asa melakukan tindakan luar biasa! Mungkin kamu pernah menonton film Cast Away? Di dalam film itu, demi sebuah harapan untuk dapat bertemu kembali dengan kekasihnya, tokoh yang diperankan oleh Tom Hank mampu bertahan hidup di pulau terpencil hanya berteman sepi dan bola voli yang diberinya nama ”Wilson”. Bertahun-tahun! Sampai akhirnya, dengan sebuah rakit yang dia rangkai dari batang-batang pohon, dan layar yang dia buat dari plat baja bekas reruntuhan pesawatnya yang terempas ke permukan laut sebelum akhirnya tenggelam, dia mulai mengarungi samudera seorang diri! Dan dia berhasil! Keberhasilan yang menakjubkan dari seorang yang nyaris mengakhiri hidupnya dengan menggantung lehernya dengan tali di atas bukit karang.
 Seminggu yang lalu, kau mengatakan kepadaku bahwa kau memiliki sebuah rahasia yang belum kau ceritakan kepadaku. Kau berjanji akan menceritakannya nanti saat kita bertemu. Bertemu? Aku memang pernah berjanji untuk bertandang ke kotamu. Tapi siapa bisa menjamin sebuah rencana pasti akan terlaksana? Maka, kudesak kamu  untuk menceritakan rahasiamu itu kepadaku. Untuk itu kau memintaku berjanji tidak akan menjauhi dirimu setelah kamu menceritakan rahasiamu itu kepadaku. Kupenuhi permintaanmu.
Malam itu, dengan terbata, kau ceritakan kepadaku tentang rencana pertunanganmu melalui telepon genggam!
Ah… rasanya, segalanya jadi serupa dengan cerita di dalam film Cast Away. Tom Hank memang berhasil menempuh segala rintangan untuk dapat bertemu kembali dengan kekasihnya. Seharusnya dia berbahagia. Tapi dia justru harus berhadapan dengan kekecewaan ketika mendapati kenyataan bahwa kekasihnya telah menikah dengan temannya. Kira-kira seperti itulah yang kini kurasakan. Meski peristiwanya berbeda, perasaan yang ditimbulkannya tak jauh beda.
***
Senja beranjak menua. Aku masih duduk di tepian pantai Anyer. Membiarkan lidah ombak menjilati kakiku yang telanjang. Angin menampar-nampar wajahku. Hari ini kau akan melangsungkan pertunangan dengan lelaki pilihanmu. Sebuah pertunangan yang telah dipersiapkan sejak pertemuan kita untuk yang pertama kali di pantai ini. Sebuah cincin akan mengikat dirimu. Lalu bagaimana dengan hatimu? Tiba-tiba aku merasa kosong. Seperti ada yang telah menghilang dari diriku. Entah apa. Mungkin… harapan? Ya, kurasa begitu. Sebuah harapan yang sempat kutanam di ladang ketidakpastian. Tak kutemukan lagi dia menghuni ladang itu. Dan tiba-tiba saja, aku menjadi takut pada hari esok. Ketakutan yang tidak kumengerti. Aku ingin berlari. Berlari. Berlari meninggalkan bayangan dirimu yang lekat di dinding hatiku. Tapi ke mana? Kamu seperti hantu. Selalu menghantuiku. Ke mana pun tubuhku pergi. Kau... terus membayangi aku[1]. Lagipula, aku telah berjanji kepadamu, untuk tidak menjauhi dirimu. Dan aku tak ingin mengingkari itu!
Ah… Ada sesuatu yang seharusnya kau tahu. Sesuatu yang menjadi rahasia hatiku sejak mula kita bertemu. Mengenal kamu, aku seperti menemukan oase di tengah gurun gersang hatiku. Tak sadar, kumulai menanam harapan di ladang ketidakpastian. Tapi kenyataan, seperti menerbangkan layang-layang ke angkasa. Tiba-tiba datang angin kencang. Layang-layangku putus. Harapanku terbang tertiup angin. Sesaat aku terpana. Terdiam. Aku tak tahu harus berbuat apa. Aku tak mau kehilangan layang-layang itu. Kukejar. Kuraih. Dan kudapatkan kembali! Meski kini tak mungin aku menerbangkan layang-layang itu, masih bolehkah aku menyimpannya, dan membiarkan takdir menjalankan tugasnya? Hari ini, esok, atau nanti… siapa yang tahu rahasia Ilahi?
Senja telah berubah keunguan. Awan menggelung. Mendung menggantung. Masihkah ada angin? Aku ingin menerbangkan layang-layang itu. Tak ada jawaban. Angin seolah berhenti berhembus. Udara seolah mati.
“Depo!” Sebuah suara lembut. Tapi mungkinkah? Atau hanya halusinasiku?
“Depo!” Lagi-lagi suara itu. Mengusik diamku. Tak mugkin itu kamu. Hari ini kau akan bertunangan. Jadi tak mungkin kau ada di sini. Kau pasti sedang berbahagia saat ini. Atau malah sedang menangis?
“Depo!” Untuk yang ketiga kalinya suara itu terdengar. Tapi apa mungkin? Lalu bau parfum ini? Aku hafal betul dengan bau ini. Tidak. Tapi… Ah! Aku menolehkan kepala mencari jawaban dari kebingunganku. Kulihat seseorang berdiri di hadapanku. Seorang gadis mungil. Tapi, bukankah dia seharusnya bertunangan hari ini.
“Tiara???”




[1] Lirik lagu Kosong karya Ahmad Dani
 
 
Copyright © album fiksi
Blogger Theme by BloggerThemes Design by Diovo.com