Oleh Donald Ducky
Aku bermenung di tepian pantai.
Memandang lurus ke garis cakrawala. Melepas angan terbang bersama camar yang
melintas. Lalu wajahmu memendar di hamparan layar jingga cakrawala. Matahari
perlahan melindap ke balik kaki langit. Sebentar lagi malam datang. Menawarkan
kelam. Seperti hatiku. Seperti hatiku. Mengapa senja tak pernah tinggal abadi?
Seperti cinta. Selalu saja ada saat yang memisahkan. Adakah di suatu negeri, di
mana matahari senja tak pernah tenggelam? Aku ingin pergi ke sana. Mencari
cinta yang memang hanya untukku. Hanya untukku. Selamanya. Tapi apa mungkin
begitu? Terlanjur kuserahkan hatiku kepadamu. Seutuhnya. Tak bersisa. Ah!
Mengapa segalanya selalu datang terlambat kepadaku. Seperti kamu. Ya, seperti
kamu.
Kita bertemu empat
bulan yang lalu. Sebuah pertemuan yang tak direncanakan. Sebuah kebetulan yang
telah digariskan. Tangan-tangan Tuhan menuntun kakiku meniti tangga. Tergesa.
Menuju ruang redaksi di lantai dua. Sudah lama aku tidak main ke tempat itu.
Biasanya aku selalu menyerahkan naskah cerpenku melalui e-mail. Entah
mengapa, hari itu aku ingin sekali menyerahkannya langsung. Menjelang anak
tangga yang terakhir, tanpa sengaja, aku menyenggol tubuhmu. Tasmu terjatuh.
“Ma… maaf?” kataku. Memungut tasmu
yang terjatuh dan menyerahkannya kepadamu. Kau hanya tersenyum. Lalu berlalu.
Tapi sebelum tubuhmu menghilang di tikungan tangga, kamu sempat menoleh ke
arahku. Lagi-lagi kau perlihatkan senyum manismu kepadaku. Dadaku bergetar saat
itu.
Aku baru saja ingin
melangkahkan kakiku, saat ujung sepatuku menyentuh sebuah benda yang tergeletak
di tangga. Dompet? Kupungut benda berwarna biru itu. Kubuka. Ada foto dirimu di
sana. Aku segera beranjak menuruni tangga. Mengejarmu. Tapi terlambat. Kau
telah menghilang.
Ah, kenapa tidak mencari
alamatnya di dalam dompet? Pikirku waktu itu. Kukeluarkan KTP-mu dari dalam
dompet. Tiara namamu. Kau tinggal di… Magelang?!? Aku menyeret langkahku.
Lemas. Ke mana aku harus mencarimu?
“Hei, tumben main ke
sini?” tegur Mbak Shella, saat melihat aku berdiri di depan pintu ruang
redaksi.
“Kangen,” kataku.
“Bawa naskah cerpen?” tanya
Mbak Shella lagi. Aku menyerahkan disketku kepadanya. Lalu menceritakan
kejadian yang baru saja aku alami. Kuutarakan kebingunganku. Aku tak tahu ke
mana harus mengembalikan dompetmu yang terjatuh saat kutabrak.
“Jadi kamu bertemu dengan
Tiara?”
“Mbak kenal dia?”
“Dia kan penulis juga seperti
kamu.”
“Tapi aku nggak pernah melihat
namanya?”
“Kalau dihilangkan huruf A di
belakang namanya?”
“Tiar?”
“Ya!”
“Ooo…,” bibirku membulat. “Aku
pikir Tiar seorang cowok…”
“Mbak tahu di mana tinggalnya?”
“Di Magelang.”
“Maksudku, di Jakarta ini dia
tinggal di mana?”
“Kenapa nggak kamu hubungi aja handphone-nya?”
“Mbak punya nomernya?”
***
Mbak Shella memberikan nomor handphone-mu
kepadaku. Aku langsung menghubungimu saat itu juga. Lalu kita membuat janji
untuk bertemu.
Senja itu, kita duduk di tepian
pantai Anyer, di atas hamparan pasir putih yang keemasan ditimpa cahaya matahari.
Menikmati keindahan cakrawala ketika jingga menyemburat mengurai mega yang arak
berarak. Berbagi kisah. Bertukar cerita. Kita laiknya dua insan yang sudah lama
saling mengenal. Padahal, baru kali itu kita bertemu. Di kejauhan, tampak
siluet puncak Gunung Krakatau. Kita berjalan menyusuri pantai. Lidah ombak
menjilati kaki-kaki kita yang telanjang. Ah… sebuah kemesraan yang hanya akan
tinggal menjadi kenangan kini.
Malam itu juga kau harus
kembali ke kotamu.
Tapi kisah kita belum berakhir
sampai di situ. Jarak yang membentang antara kotaku dan kotamu tak menghalangi
kita untuk saling bertukar cerita. Meski jauh, aku tetap bisa merasakan aroma
parfum yang meruap dari tubuh mungilmu. Tatapan lembut dari lentik matamu.
Segaris senyum yang selalu menghias raut beliamu. Semuanya itu mampu
menjelmakan dirimu di dalam diriku. Seperti sebuah cermin.
Aku dan kamu menjadi sangat
akrab. Keakraban yang juga tanpa rencana. Terjadi begitu saja. Dari saling bertukar
sapa melalui telepon genggam, sampai saling mengingatkan waktu sholat dan
istirahat. Lalu cerita mengalir begitu saja. Hiruk-pikuk hari-hari ringan saja,
lewat saja. Kau seolah memenuhi kekosonganku. Aku tak memiliki niat terlalu
jauh. Hanya kurasakan kelancaran nafas hidup. Kurasakan sukacita waktu dalam
setiap kata yang kau kirimkan ke telepon genggamku.
Tanpa kusadari, aku mulai
menanam harapan di ladang ketidakpastian. Salahkah aku memiliki harapan? Sebuah
harapan, mampu membuat orang yang putus asa melakukan tindakan luar biasa!
Mungkin kamu pernah menonton film Cast Away? Di dalam
film itu, demi sebuah harapan untuk dapat bertemu kembali dengan kekasihnya,
tokoh yang diperankan oleh Tom Hank mampu bertahan hidup di pulau terpencil
hanya berteman sepi dan bola voli yang diberinya nama ”Wilson”. Bertahun-tahun!
Sampai akhirnya, dengan sebuah rakit yang dia rangkai dari batang-batang pohon,
dan layar yang dia buat dari plat baja bekas reruntuhan pesawatnya yang
terempas ke permukan laut sebelum akhirnya tenggelam, dia mulai mengarungi
samudera seorang diri! Dan dia berhasil! Keberhasilan yang menakjubkan dari
seorang yang nyaris mengakhiri hidupnya dengan menggantung lehernya dengan tali
di atas bukit karang.
Seminggu yang lalu, kau
mengatakan kepadaku bahwa kau memiliki sebuah rahasia yang belum kau ceritakan
kepadaku. Kau berjanji akan menceritakannya nanti saat kita bertemu. Bertemu?
Aku memang pernah berjanji untuk bertandang ke kotamu. Tapi siapa bisa menjamin
sebuah rencana pasti akan terlaksana? Maka, kudesak kamu untuk
menceritakan rahasiamu itu kepadaku. Untuk itu kau memintaku berjanji tidak
akan menjauhi dirimu setelah kamu menceritakan rahasiamu itu kepadaku. Kupenuhi
permintaanmu.
Malam itu, dengan terbata, kau
ceritakan kepadaku tentang rencana pertunanganmu melalui telepon genggam!
Ah… rasanya, segalanya jadi
serupa dengan cerita di dalam film Cast Away. Tom Hank
memang berhasil menempuh segala rintangan untuk dapat bertemu kembali dengan
kekasihnya. Seharusnya dia berbahagia. Tapi dia justru harus berhadapan dengan
kekecewaan ketika mendapati kenyataan bahwa kekasihnya telah menikah dengan
temannya. Kira-kira seperti itulah yang kini kurasakan. Meski peristiwanya
berbeda, perasaan yang ditimbulkannya tak jauh beda.
***
Senja beranjak menua. Aku masih
duduk di tepian pantai Anyer. Membiarkan lidah ombak menjilati kakiku yang
telanjang. Angin menampar-nampar wajahku. Hari ini kau akan melangsungkan
pertunangan dengan lelaki pilihanmu. Sebuah pertunangan yang telah dipersiapkan
sejak pertemuan kita untuk yang pertama kali di pantai ini. Sebuah cincin akan
mengikat dirimu. Lalu bagaimana dengan hatimu? Tiba-tiba aku merasa kosong.
Seperti ada yang telah menghilang dari diriku. Entah apa. Mungkin… harapan? Ya,
kurasa begitu. Sebuah harapan yang sempat kutanam di ladang ketidakpastian. Tak
kutemukan lagi dia menghuni ladang itu. Dan tiba-tiba saja, aku menjadi takut
pada hari esok. Ketakutan yang tidak kumengerti. Aku ingin berlari. Berlari.
Berlari meninggalkan bayangan dirimu yang lekat di dinding hatiku. Tapi ke mana?
Kamu seperti hantu. Selalu menghantuiku. Ke mana pun tubuhku pergi. Kau...
terus membayangi aku[1].
Lagipula, aku telah berjanji kepadamu, untuk tidak menjauhi dirimu. Dan aku tak
ingin mengingkari itu!
Ah… Ada sesuatu yang seharusnya
kau tahu. Sesuatu yang menjadi rahasia hatiku sejak mula kita bertemu. Mengenal
kamu, aku seperti menemukan oase di tengah gurun gersang hatiku. Tak sadar,
kumulai menanam harapan di ladang ketidakpastian. Tapi kenyataan, seperti
menerbangkan layang-layang ke angkasa. Tiba-tiba datang angin kencang.
Layang-layangku putus. Harapanku terbang tertiup angin. Sesaat aku terpana.
Terdiam. Aku tak tahu harus berbuat apa. Aku tak mau kehilangan layang-layang
itu. Kukejar. Kuraih. Dan kudapatkan kembali! Meski kini tak mungin aku menerbangkan
layang-layang itu, masih bolehkah aku menyimpannya, dan membiarkan takdir
menjalankan tugasnya? Hari ini, esok, atau nanti… siapa yang tahu rahasia
Ilahi?
Senja telah berubah keunguan.
Awan menggelung. Mendung menggantung. Masihkah ada angin? Aku ingin
menerbangkan layang-layang itu. Tak ada jawaban. Angin seolah berhenti
berhembus. Udara seolah mati.
“Depo!” Sebuah suara lembut.
Tapi mungkinkah? Atau hanya halusinasiku?
“Depo!” Lagi-lagi suara itu.
Mengusik diamku. Tak mugkin itu kamu. Hari ini kau akan bertunangan. Jadi tak
mungkin kau ada di sini. Kau pasti sedang berbahagia saat ini. Atau malah
sedang menangis?
“Depo!” Untuk yang ketiga
kalinya suara itu terdengar. Tapi apa mungkin? Lalu bau parfum ini? Aku hafal
betul dengan bau ini. Tidak. Tapi… Ah! Aku menolehkan kepala mencari jawaban
dari kebingunganku. Kulihat seseorang berdiri di hadapanku. Seorang gadis
mungil. Tapi, bukankah dia seharusnya bertunangan hari ini.
“Tiara???”
0 komentar:
Posting Komentar