Rabu, 08 Oktober 2014

Monolog di Tepian Senja

Oleh Donald Ducky
Aku bermenung di tepian pantai. Memandang lurus ke garis cakrawala. Melepas angan terbang bersama camar yang melintas. Lalu wajahmu memendar di hamparan layar jingga cakrawala. Matahari perlahan melindap ke balik kaki langit. Sebentar lagi malam datang. Menawarkan kelam. Seperti hatiku. Seperti hatiku. Mengapa senja tak pernah tinggal abadi? Seperti cinta. Selalu saja ada saat yang memisahkan. Adakah di suatu negeri, di mana matahari senja tak pernah tenggelam? Aku ingin pergi ke sana. Mencari cinta yang memang hanya untukku. Hanya untukku. Selamanya. Tapi apa mungkin begitu? Terlanjur kuserahkan hatiku kepadamu. Seutuhnya. Tak bersisa. Ah! Mengapa segalanya selalu datang terlambat kepadaku. Seperti kamu. Ya, seperti kamu.
  Kita bertemu empat bulan yang lalu. Sebuah pertemuan yang tak direncanakan. Sebuah kebetulan yang telah digariskan. Tangan-tangan Tuhan menuntun kakiku meniti tangga. Tergesa. Menuju ruang redaksi di lantai dua. Sudah lama aku tidak main ke tempat itu. Biasanya aku selalu menyerahkan naskah cerpenku melalui e-mail. Entah mengapa, hari itu aku ingin sekali menyerahkannya langsung. Menjelang anak tangga yang terakhir, tanpa sengaja, aku menyenggol tubuhmu. Tasmu terjatuh.
“Ma… maaf?” kataku. Memungut tasmu yang terjatuh dan menyerahkannya kepadamu. Kau hanya tersenyum. Lalu berlalu. Tapi sebelum tubuhmu menghilang di tikungan tangga, kamu sempat menoleh ke arahku. Lagi-lagi kau perlihatkan senyum manismu kepadaku. Dadaku bergetar saat itu.
Aku baru saja ingin melangkahkan kakiku, saat ujung sepatuku menyentuh sebuah benda yang tergeletak di tangga. Dompet? Kupungut benda berwarna biru itu. Kubuka. Ada foto dirimu di sana. Aku segera beranjak menuruni tangga. Mengejarmu. Tapi terlambat. Kau telah menghilang.
Ah, kenapa tidak mencari alamatnya di dalam dompet? Pikirku waktu itu. Kukeluarkan KTP-mu dari dalam dompet. Tiara namamu. Kau tinggal di… Magelang?!? Aku menyeret langkahku. Lemas. Ke mana aku harus mencarimu?
 “Hei, tumben main ke sini?” tegur Mbak Shella, saat melihat aku berdiri di depan pintu ruang redaksi.
“Kangen,” kataku.
“Bawa naskah cerpen?” tanya Mbak Shella lagi. Aku menyerahkan disketku kepadanya. Lalu menceritakan kejadian yang baru saja aku alami. Kuutarakan kebingunganku. Aku tak tahu ke mana harus mengembalikan dompetmu yang terjatuh saat kutabrak.
“Jadi kamu bertemu dengan Tiara?”
“Mbak kenal dia?”
“Dia kan penulis juga seperti kamu.”
“Tapi aku nggak pernah melihat namanya?”
“Kalau dihilangkan huruf A di belakang namanya?”
“Tiar?”
“Ya!”
“Ooo…,” bibirku membulat. “Aku pikir Tiar seorang cowok…”
 “Mbak tahu di mana tinggalnya?”
“Di Magelang.”
“Maksudku, di Jakarta ini dia tinggal di mana?”
“Kenapa nggak kamu hubungi aja handphone-nya?”
 “Mbak punya nomernya?”
***
Mbak Shella memberikan nomor handphone-mu kepadaku. Aku langsung menghubungimu saat itu juga. Lalu kita membuat janji untuk bertemu.
Senja itu, kita duduk di tepian pantai Anyer, di atas hamparan pasir putih yang keemasan ditimpa cahaya matahari. Menikmati keindahan cakrawala ketika jingga menyemburat mengurai mega yang arak berarak. Berbagi kisah. Bertukar cerita. Kita laiknya dua insan yang sudah lama saling mengenal. Padahal, baru kali itu kita bertemu. Di kejauhan, tampak siluet puncak Gunung Krakatau. Kita berjalan menyusuri pantai. Lidah ombak menjilati kaki-kaki kita yang telanjang. Ah… sebuah kemesraan yang hanya akan tinggal menjadi kenangan kini.
Malam itu juga kau harus kembali ke kotamu.
Tapi kisah kita belum berakhir sampai di situ. Jarak yang membentang antara kotaku dan kotamu tak menghalangi kita untuk saling bertukar cerita. Meski jauh, aku tetap bisa merasakan aroma parfum yang meruap dari tubuh mungilmu. Tatapan lembut dari lentik matamu. Segaris senyum yang selalu menghias raut beliamu. Semuanya itu mampu menjelmakan dirimu di dalam diriku. Seperti sebuah cermin.
Aku dan kamu menjadi sangat akrab. Keakraban yang juga tanpa rencana. Terjadi begitu saja. Dari saling bertukar sapa melalui telepon genggam, sampai saling mengingatkan waktu sholat dan istirahat. Lalu cerita mengalir begitu saja. Hiruk-pikuk hari-hari ringan saja, lewat saja. Kau seolah memenuhi kekosonganku. Aku tak memiliki niat terlalu jauh. Hanya kurasakan kelancaran nafas hidup. Kurasakan sukacita waktu dalam setiap kata yang kau kirimkan ke telepon genggamku.
Tanpa kusadari, aku mulai menanam harapan di ladang ketidakpastian. Salahkah aku memiliki harapan? Sebuah harapan, mampu membuat orang yang putus asa melakukan tindakan luar biasa! Mungkin kamu pernah menonton film Cast Away? Di dalam film itu, demi sebuah harapan untuk dapat bertemu kembali dengan kekasihnya, tokoh yang diperankan oleh Tom Hank mampu bertahan hidup di pulau terpencil hanya berteman sepi dan bola voli yang diberinya nama ”Wilson”. Bertahun-tahun! Sampai akhirnya, dengan sebuah rakit yang dia rangkai dari batang-batang pohon, dan layar yang dia buat dari plat baja bekas reruntuhan pesawatnya yang terempas ke permukan laut sebelum akhirnya tenggelam, dia mulai mengarungi samudera seorang diri! Dan dia berhasil! Keberhasilan yang menakjubkan dari seorang yang nyaris mengakhiri hidupnya dengan menggantung lehernya dengan tali di atas bukit karang.
 Seminggu yang lalu, kau mengatakan kepadaku bahwa kau memiliki sebuah rahasia yang belum kau ceritakan kepadaku. Kau berjanji akan menceritakannya nanti saat kita bertemu. Bertemu? Aku memang pernah berjanji untuk bertandang ke kotamu. Tapi siapa bisa menjamin sebuah rencana pasti akan terlaksana? Maka, kudesak kamu  untuk menceritakan rahasiamu itu kepadaku. Untuk itu kau memintaku berjanji tidak akan menjauhi dirimu setelah kamu menceritakan rahasiamu itu kepadaku. Kupenuhi permintaanmu.
Malam itu, dengan terbata, kau ceritakan kepadaku tentang rencana pertunanganmu melalui telepon genggam!
Ah… rasanya, segalanya jadi serupa dengan cerita di dalam film Cast Away. Tom Hank memang berhasil menempuh segala rintangan untuk dapat bertemu kembali dengan kekasihnya. Seharusnya dia berbahagia. Tapi dia justru harus berhadapan dengan kekecewaan ketika mendapati kenyataan bahwa kekasihnya telah menikah dengan temannya. Kira-kira seperti itulah yang kini kurasakan. Meski peristiwanya berbeda, perasaan yang ditimbulkannya tak jauh beda.
***
Senja beranjak menua. Aku masih duduk di tepian pantai Anyer. Membiarkan lidah ombak menjilati kakiku yang telanjang. Angin menampar-nampar wajahku. Hari ini kau akan melangsungkan pertunangan dengan lelaki pilihanmu. Sebuah pertunangan yang telah dipersiapkan sejak pertemuan kita untuk yang pertama kali di pantai ini. Sebuah cincin akan mengikat dirimu. Lalu bagaimana dengan hatimu? Tiba-tiba aku merasa kosong. Seperti ada yang telah menghilang dari diriku. Entah apa. Mungkin… harapan? Ya, kurasa begitu. Sebuah harapan yang sempat kutanam di ladang ketidakpastian. Tak kutemukan lagi dia menghuni ladang itu. Dan tiba-tiba saja, aku menjadi takut pada hari esok. Ketakutan yang tidak kumengerti. Aku ingin berlari. Berlari. Berlari meninggalkan bayangan dirimu yang lekat di dinding hatiku. Tapi ke mana? Kamu seperti hantu. Selalu menghantuiku. Ke mana pun tubuhku pergi. Kau... terus membayangi aku[1]. Lagipula, aku telah berjanji kepadamu, untuk tidak menjauhi dirimu. Dan aku tak ingin mengingkari itu!
Ah… Ada sesuatu yang seharusnya kau tahu. Sesuatu yang menjadi rahasia hatiku sejak mula kita bertemu. Mengenal kamu, aku seperti menemukan oase di tengah gurun gersang hatiku. Tak sadar, kumulai menanam harapan di ladang ketidakpastian. Tapi kenyataan, seperti menerbangkan layang-layang ke angkasa. Tiba-tiba datang angin kencang. Layang-layangku putus. Harapanku terbang tertiup angin. Sesaat aku terpana. Terdiam. Aku tak tahu harus berbuat apa. Aku tak mau kehilangan layang-layang itu. Kukejar. Kuraih. Dan kudapatkan kembali! Meski kini tak mungin aku menerbangkan layang-layang itu, masih bolehkah aku menyimpannya, dan membiarkan takdir menjalankan tugasnya? Hari ini, esok, atau nanti… siapa yang tahu rahasia Ilahi?
Senja telah berubah keunguan. Awan menggelung. Mendung menggantung. Masihkah ada angin? Aku ingin menerbangkan layang-layang itu. Tak ada jawaban. Angin seolah berhenti berhembus. Udara seolah mati.
“Depo!” Sebuah suara lembut. Tapi mungkinkah? Atau hanya halusinasiku?
“Depo!” Lagi-lagi suara itu. Mengusik diamku. Tak mugkin itu kamu. Hari ini kau akan bertunangan. Jadi tak mungkin kau ada di sini. Kau pasti sedang berbahagia saat ini. Atau malah sedang menangis?
“Depo!” Untuk yang ketiga kalinya suara itu terdengar. Tapi apa mungkin? Lalu bau parfum ini? Aku hafal betul dengan bau ini. Tidak. Tapi… Ah! Aku menolehkan kepala mencari jawaban dari kebingunganku. Kulihat seseorang berdiri di hadapanku. Seorang gadis mungil. Tapi, bukankah dia seharusnya bertunangan hari ini.
“Tiara???”




[1] Lirik lagu Kosong karya Ahmad Dani

0 komentar:

Posting Komentar

 
 
Copyright © album fiksi
Blogger Theme by BloggerThemes Design by Diovo.com