Tampilkan postingan dengan label Dewasa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Dewasa. Tampilkan semua postingan

Minggu, 19 Oktober 2014

Tedong Helena

Oleh Denny Prabowo


diasporaiqbal.blogspot.com
Lantang-lantang[1] telah didirikan. Sambung-menyambung. Mengapit tongkonan[2], rumah adat serupa perahu besar itu seolah matahari bagi bangunan-bangunan sederhana yang tersusun dari bilah-bilah bambu. Sanak saudara serta para kerabat berdatangan. Mengisi lantang yang telah disediakan. Menyerahkan bahan makanan yang dibutuhkan selama upacara sebagai wujud partisipasi.


Helena Rambulangi tersenyum. Memandang tedong bonga[3] miliknya tertambat pada simbuang batu[4] peninggalan masa silam. Kerbau setengah albino itu berjumlah lima. Sisanya kerbau biasa. Babi-babi miliknya masih menghuni kandang. Semua akan dikorbankan. Untuk mengantarkan arwah Ambe’[5] tercinta menuju puya[6]. Manusia hanyalah pinjaman dunia yang dipakai untuk sesaat. Sebab, di-puyo-lah negeri yang kekal. Di sana pula akhir dari perjalanan hidup yang sesungguhnya.

Helena tersenyum membayangkan petak-petak sawah yang luasnya berhektar-hektar tak ternilai. Tedong-tedong[7] yang tinggal di peternakan Ambe ratusan jumlahnya. Belum lagi babi-babi. Setangah dari seluruh kekayaan orang tuanya itu akan segera menjadi miliknya, seusai rangkaian upacara Rambu Solo’[8] diselenggara.

Tak seorang pun dari ahli waris yang mampu menandingi Helena. Tidak Alius, tidak juga Damen—kedua kakak kandungnya. Setengah lebih dari pengeluaran untuk Rambu Solo’ ini disumbang olehnya. Untuk mendapatkan hasil yang besar, dibutuhkan umpan yang besar pula. Bayangkan saja, lima ekor tedong bonga, masih ditambah beberapa tedong biasa, serta beberapa ekor babi!

Sebagai keturunan bangsawan tak bisa sembarangan menggelar upacara pemakaman. Jika upacara tidak sesuai dengan aluk[9], roh mendiang tak bisa mencapai puyo. Jiwanya akan tersesat.

Satu bulan setelah menerima surat dari Alius, kakak keduanya, tentang kematian Ambe, Helena kembali ke kampung halamannya di Ke’te Kesu’. Delapan tahun lebih Helena meninggalkan rumah. Ia masih terkenang murka Ambe. Ketika kembali ke rumah bersama seorang lelaki Bugis bernama Mappangewa, teman kuliahnya di Universitas Hassanudin.

”Helena mencintainya, Ambe...”

”Tak bisa, Ambe sudah berjanji pada Tato’ Denna’ untuk menikahkan kau dengan anak laki-lakinya!”

”Tapi, Ambe...” ragu Helena berucap, ”Helena sedang mengandung benihnya.”

Mata Ambe membeliak. Tak sanggup berucap. Tubuhnya menjelma batang kayu. Geramahnya beradu, saling bergesekan, menahan api yang menyekam dalam dada. Sebentar saja api itu siap membakar Helena beserta lelaki yang datang bersamanya. Indo’[10] hafal sekali dengan tabiat suaminya. Dia segera mendekati Helena. Indo’ sadar, air matanya tak akan cukup memadamkan bara yang berdiam di dada suaminya.

“Sebaiknya kau tinggalkan rumah ini segera.” Berat dia berucap. Helena anak bungsu kesayangannya. Tapi hanya itu jalan keluar yang melintasi kepalanya. Hati Ambe batu. Tak mudah luluh oleh air mata. Dibutuhkan waktu lama untuk melubanginya.

Hanya satu tahun setelah kepergiannya, Indo’ tutup usia. Ibu mana yang mampu berpisah dari putri kesayangannya? Helena tak pernah mendengar kabar kepergian ibunya. Mappangewa membawanya ke Jakarta. Kabar kematian Indo’ baru diketahui lima tahun setelahnya. Suatu ketika dia bertemu dengan teman main semasa kecilnya di sebuah galeri di Jakarta. Kerinduan pada kampung halaman yang mengantarkan Helena menyambangi pameran ukir asal Tana Toraja. Dia melihat beritanya dari layar kaca dan membacanya di koran-koran. Tentang Mayanna, seorang lelaki Toraja yang akan diundang ke Jakarta untuk memamerkan hasil ukirannya. Dari teman mainnya itu, dia mengetahui kabar kematian ibunya.

Helena hanya bisa meratap ketika itu. Mappangewa hanya seorang wartawan lepas, yang sesekali suka menulis cerpen di surat kabar. Sedang dirinya hanya seorang guru sekolah dasar negeri yang gajinya tak seberapa. Untuk hidup sehari-hari mereka harus mengencangkan ikat pinggang. Cicilan rumah di pinggiran kota Jakarta menguras seluruh penghasilan mereka. Tak cukup tabungan untuk pulang ke Toraja menjenguk erong[11] tempat jasad ibunya dibaringkan pada dinding tebing kapur.

***

Dua ekor kerbau digiring ke tengah lapangan upacara. Seorang pawang merapal mantra-mantra. Menempelkan mata pisau pada leher kerbau. Sebelum tangannya bergerak penuh perhitungan. Hanya dalam hitungan detik saja kerbau itu tumbang menggelepar dengan leher mengangga menyembur darah. Suara lenguh panjang. Serupa erang. Lalu terdiam.

Tak lama berselang. Ma’pasa’ Tedong[12]. Kerbau-kerbau yang telah disepakati oleh keluarga untuk dikorbankan dikumpulkan di halaman tongkonan. Kerbau-kerbau itu kemudian diarak berkeliling kampung sebanyak tiga kali.

Helena tersenyum memandangi tongkonan dari anak tangga terbawah. Rumah panggung itu tampak anggun. Atapnya serupa perahu. Menjulang ke langit. Pada bagian depan tongkonan, tandun-tanduk serta kepala kerbau tersusun rapi. Sebentar lagi akan bertambah jumlah setelah berakhirnya upacara. Tanduk-tanduk kerbau miliknya yang akan dikorbankan untuk mengantar Ambe menuju puyo, siap menambah wibawa kebangsawanan keluarganya. Dan semuanya itu akan diwariskan kepadanya beserta setengah dari kekayaan peninggalan Ambe.

Hidup memang butuh pengorbanan. Bertahun-tahun hidup di perantauan tanpa sanak keluarga, Helena tahu betul arti kata itu—pengorbanan. Ia memang tidak menyesal karena sudah menikah dengan Mappangewa. Apalagi selepas merampungkan pascasarjana di fakultas ilmu budaya, suaminya memiliki profesi tambahan sebagai dosen sastra di beberapa universitas negeri maupun swasta di Jakarta. Meski Helena masih saja menjadi pengajar di sekolah dasar, mereka sudah memiliki rumah sendiri.

Tapi rumah saja tak cukup. Anak mereka yang kedua sudah mulai masuk sekolah. Pasti membutuhkan banyak biaya. Sepeda motor yang baru lunas kreditnya sudah dijual. Tapi hasil penjualannya hanya cukup untuk biaya pulang ke kampung halaman, membeli beberapa ekor babi. Helena tak mungkin bermimpi mendapat bagian warisan terbanyak hanya dengan menyumbang beberapa ekor babi saja.

”Bagaiman kalau kita jual rumah kita?”

”Lalu kita mau tinggal di mana?”

”Kita bisa mengontrak rumah untuk sementara.”

Mappangewa tak membantah usul istrinya. Meski tak terlalu setuju. Hanya seminggu rumah mereka sudah banyak yang menawar karena lokasinya yang cukup strategis. Kepada penawar tertinggi, Helena melepas rumah mereka. Dia tak mau menunggu lama.

Dan di sinilah Helena kini. Di kampung halamannya. Suami dan kedua anaknya tak turut serta. Menghemat biaya perjalanan. Kalau sudah harta warisan digenggaman, Helena akan mengirimi mereka uang untuk menyusulnya.

Malam semakin larut. Ritual demi ritual telah dilewati. Tiba saatnya Ma’tunda[13]. Sebuah ritual membangunkan arwah yang selama satu bulan menjadi tomebali puang[14]. Awan pekat kembali menyelubung wajah-wajah sanak saudara serta para kerabat terdekat. Termasuk Helena. Sepasang matanya mengabut. Terkenang dia pada masa kecilnya. Ketika Ambe suka mengajaknya bermain-main di pematang sawah. Menyaksikan para petani menggarap sawah-sawah miliknya yang sangat luas. Atau membawanya bermain-main di atas punggung anak kerbau di peternakannya.

Suara lesung bergeman bersahut-sahutan. Tangan-tangan kaum wanita tua mahir memainkan bambu menumbuk padi-padi pilihan di dalam lesung. Jasad Ambe dipindahkan dari rumah duka, untuk disemayamkan di tongkonan semalaman. Peti mati seberat 100 kilogram diangkat bersama-sama. Hati-hati mereka meniti tangga. Menyatukan kembali arwah Ambe dengan arwah leluhur.

***

Sinar matahari pukul sembilan pagi menghambur ke wajah Helena, ketika jendela-jendela di rumah kediamannya dibuka. Helena memicingkan kedua matanya. Semalaman ia terjaga di kamarnya, meski tak turut menjaga jasad Ambe. Banyak yang menjejal ruang di kepala. Pertemuannya dengan anak lelaki Tato’ Denna menjelma bayang-bayang. Silih berganti dengan wajah suami dan kedua putranya di Jakarta. Sejak berada di kampung halamannya, belum sekali pun Helena merasakan tidur serupa bayi. Keinginan yang hanya mungkin dia penuhi selepas upacara Rambu Solo’ tuntas digelar. Saat seluruh ahli waris dikumpulkan, untuk menerima bagian harta peninggalan Ambe.

Ramai suara di luar rumah. Helena beranjak dari kamarnya. Sudah tiba waktu memindahkan jasad Ambe ke dalam alang[15] yang berada di bawah tongkonan. Helena bersiap seadanya. Tak mau ketinggalan.

Erong berbentuk perahu itu diturunkan dari tongkonan. Tarian penghormatan. Sorak sorai bergema. Warga bahu-membahu memanggul beban di pundak mereka. Lamba-lamba[16] dibentang, menjadi penunjuk ke mana langkah harus diayun untuk sampai ke alang. Sebagian mengusung tau-tau[17]. Berjalan di depan. Helena seperti melihat sosok Ambe hidup kembali pada boneka kayu yang didandani persis serupa Ambe ketika masih arwah berdiam dalam jasmani.

Dalam keramaian. Sudut mata Helena menangkap sesosok wajah. Lelaki itu melempar senyum ke arahnya. Matanya mengedip. Helena tertunduk. Membuang tatapannya ke tempat lain. Sesekali masih mencuri pandang ke arah lelaki itu. Dia mengenali lelaki itu sebagai putra Tato’ Denna. Lelaki keturunan Ne’ Sando[18] yang dulu pernah hendak dijodohkan kepadanya.

Bayang-bayang yang kerap hadir ketika kegelapan memeluk jiwa-jiwa yang letih, sejak dia berdiam di kampung halamannya, mewujud seketika. Terkenang dia pada pertemuannya dengan putra Tato’ Denna sebulan lalu. Ketika baru saja dia tiba di Rantepao. Seorang lelaki menepuk pundaknya dari arah belakang. Tersenyum takjub. Seperti tak percaya pada penglihatannya. Berkali-kali lelaki itu menggeser letak kaca matanya. Berusaha meyakinkan diri.

”Helena?” akhirnya dia membuka suara.

Helena tak terlalu mengenali. Sampai lelaki itu memperkenalkan diri sebagai putra Tato’ Denna. Helena teringat dengan perjodohannya. Masa lalu kembali menjelma layar lebar. Sepotong adegan tergambar di sana. Ketika dirinya dan Mappangewa mendapat murka Ambe.

Jangan-jangan...

”Kau tepat, jika mengira aku lelaki yang dulu pernah hendak dijodohkan denganmu.”

”Maaf, aku tak pernah diberitahu Ambe tentang perjodohan kita,” ucap Helena. Agak canggung. Seperti merasa bersalah. Lelaki itu malah tertawa.

”Kau hanya sendiri?” tanyanya setelah tawa mereda, ”Keluargamu tak kau ajak serta?”

”Suamiku tak bisa mengambil cuti. Anak-anakku tak bisa meninggalkan pelajarannya.”

”Mari kuantar ke rumahmu.”

”Aku mau menjenguk makam Indo’ dulu.”

Lelaki itu mengambil travel bag dari tangan Helena. Menyimpan di bagasi belakang, sebelum membukakan pintu mobilnya. Helena masuk ke dalam. Aroma lemon menyerbu lubang pernafasannya.

”Kau sudah berkeluarga?” tanya Helena setelah lelaki itu duduk di belakang kemudi.

”Kau pasti tak akan percaya kalau kukatakan aku belum beristri karena masih mengharapkan dirimu.” Lelaki itu melirik ke arah Helena. Seperti mencari tahu reaksi Helena, setelah mendengar jawaban darinya.

Helena berusaha bersikap biasa-biasa saja. Meski sebenarnya dadanya mulai berdetak tak beraturan. Lelaki itu memang sulit untuk diabaikan. Wajahnya. Sikap ramahnya. Mobil yang dikendarainya. Dia memiliki segala yang diidamkan oleh perempuan: kemapanan. Dan lelaki itu baru saja mengatakan masih mengharapkan dirinya.

Helena teringat pada Mappangewa. Pada anak-anaknya. Pada rumahnya yang terpaksa harus dijual demi membiayai upacara Rambu Solo’. Hasil penjualan rumah itu hanya cukup untuk membeli dua ekor tedong bonga ukuran sedang. Padahal Helena menginginkan bagian terbesar dari warisan ayahnya. Helena seperti menemukan jalan keluar. Sekali lagi lelaki itu melirik ke arah Helena. Sambil tersenyum. Sekali ini Helena menanggapi senyum lelaki itu. Bahasa tubuh mereka saling bicara. Bertahun-tahun hidup di perantauan, Helena tahu betul arti sebuah pengorbanan. Dia berharap Rambu Solo’ bisa menjadi pijakan awal. Merubah roda nasibnya. Dia menginginkan kehidupan yang lebih baik bagi keluarganya. Dan anak lelaki Tato’ Denna itu seolah memberi segumpal harapan.

***

Siang itu. Terik matahari menyengat kulit kepala. Tak surut antusias warga menyaksikan Mapasilaga Tedong[19]. Kerbau-kerbau terbaik disiapkan untuk diadu. Salah satunya milik Helena. Orang-orang menyiapkan taruhan. Melupakan sejenak kedukaan. Helena larut dalam kegembiraan.

Tiba giliran tedong Helena ditarik ke tengah arena. Bantu Pako nama tedong Helena, salah satu pemberian anak lelaki Tato’ Denna. Berkat lelaki itu, Helena bisa bermimpi mendapatkan bagian terbesar harta peninggalan Ambe. Lima tedong bonga, beberapa tedong biasa, masih ditambah beberapa ekor babi. Semua didapatkannya dengan hanya memberikan setengah dari hasil penjualan rumahnya.

Suara tanduk saling beradu. Kerbau-kerbau itu seolah tak hirau pada hiruk pikuk penonton. Debu mengepul ke udara. Helena tertawa menyaksikan Bantu Pako menggasak lawannya hingga tak berdaya. Terbirit melarikan diri ke tengah-tengah sawah. Berkelebatan masa depan di kepalanya. Dengan harta peninggalan Ambe, dia bisa membangun kehidupan yang jauh lebih baik di Jakarta. Helena teringat pada Mappangewa. Pada masa depan anak-anaknya. Roda nasib segera akan berpihak kepadanya.

Hingga detik berakhirnya ritual adu kerbau itu, Helena belum mengetahui, jika seluruh sawah serta peternakan Ambe telah berpindah tangan. Ketika Indo’ jatuh sakit, Ambe menggadaikan seluruh hartanya kepada Tato’ Denna guna biaya pengobatan istrinya. Sisanya habis untuk pelaksanaan ritual Rambu Solo’ untuk mengantarkan arwah istrinya menuju puyo. Sedang Helena masih menyisakan janji untuk beberapa kali lagi bertemu dengan anak lelaki Tato’ Denna di sebuah tempat paling rahasia. Begitulah cara Helena mendapatkan lima tedong bonga, beberapa tedong biasa, serta beberapa ekor babi, dengan hanya memberi setengah dari hasil penjualan rumahnya. Hidup memang butuh pengorbanan. Bertahun-tahun tinggal di perantauan tanpa sanak keluarga, Helena tahu betul arti kata itu—pengorbanan.



Rumah Cahaya Depok, 17/08/06 20:52


Catatan:


[1] Rumah-rumah bamboo didirikan saat upacara Rambu Solo’
[2] Rumah adat suku Toraja berbentuk seperti perahu, selalu menghadap ke arah utara
[3] Kerbau setengah albino memiliki nilai ekonomis tinggi
[4] Menhir yang konon ditancapkan pertama kali Th. 1657. Ketika itu ratusan ekor kerbau dikurbankan untuk upacara pemakaman keturunan Dinasti Rante Kalimbuang.
[5] Bapak
[6] Nirwana atau surga
[7] Kerbau-kerbau
[8] Upacara pemakaman, sering juga disebut pesta kematian
[9] Ajaran atau tata cara peribadatan
[10] Ibu
[11] Peti mati atau wadah mayat
[12] Ritual mengarak kerbau-kerbau yang akan dikorbankan pada acara Rambu Solo’
[13] Ritual Membangunkan arwah
[14] Roh penjelmaan dari jiwa manusia yang telah meninggal
[15] Lumbung padi
[16] Kain merah
[17] Patung kayu berwujud orang yang meninggal dunia
[18] Dukun adat
[19] Ritual adu kerbau

Sumber: Loktong, Jakarta: Menpora-CWI, 2007



Kamis, 14 Maret 2013

Syair Duka

Cerpen Denny Prabawa (Media Indonesia, 14 Maret 2013)




Hai…! Di manakah orang sekampung kita?[1]
Ayo, Berdirilah lalu kita menuangkan kesedihan kita!

Seperti sebuah seruan. Orang-orang masuk ke dalam lingkaran pa’badong[2] di tengah lantang. Saling mengait jari kelingking mengalirkan kedukaan yang maha. Tubuh-tubuh berbalut kain hitam itu bergerak, ke kanan, ke kiri, ke depan, ke belakang sambil mengayunkan kedua tangan yang terkaitkan. Bergerimit suara merapal syair. Mengenang mendiang yang telah berpulang.  Ma’badong[3].
Satu bulan lalu, Helena Rambulangi tutup usia. Sebagai keturunan Tomanurung, menjadi kewajiban bagi keturunannya untuk merayakan kematian. Bukan masalah bagi keluarganya yang kaya raya. Sawah terhampar berhektar-hektar. Kerbau di kandang puluhan jumlahnya siap dikorbankan. Kematian. Sebuah akhir yang mula. Sebuah mula segala. Ke puya[4], di puya… negeri jiwa tempat para leluhur bersemayam. Ke sana puluhan tedong yang dikorbankan siap mengantarkan.
Aku tidak berada di sana, tapi tahu segalanya. Aku mendengar semuanya. Aku selalu membayangkan berada di sana. Berdiri di antara pa’badong. Menari dan menyanyikan syair kedukaan. Melarut dalam gerak dan suara sambil membayangkan dirimu yang terbujur kaku dalam erong[5]  berpahat kerbau itu. Erong yang kupahat sendiri dengan tanganku.
“Ajari aku syair itu, Indok! Ajari aku!” pintaku, merajuk kepadamu ketika untuk pertama kali kau mengajakku ke perayaan kematian sanak keluarga kita. “Aku ingin ma’badong!”
“Kau masih kecil, Nak,” katamu sambil mengelus kepalaku, “suatu saat nanti, kau akan menyanyikannya untuk Indok.”
“Aku mau Indok, aku mau menyanyi, aku mau menari. Aku mau ma’badong.
Namun, setelah 360 hari selepas kematianmu, tak bisa aku melakukannya. Meski syair dan gerakan itu telah kuhapal luar kepala. Segalanya seperti sia-sia. Entahlah. Apakah harus kusyukuri takdir sebagai keturunan Tomanurung? Atau aku harus meratapinya?

Mari kita menguraikan kesedihan hati
Tidakkah engaku berduka?
Tidakkah kesedihan di hatimu?

Pa’badong terus bernyanyi dan menari. Semakin lama, lingkarannya kian membesar. Tubuh-tubuh berbalut kain hitam itu berjalan ke depan ke belakang sambil mengayunkan kedua tangan yang terkaitkan. Kesedihan mengepung langit di atas Rantepao.
Aku tidak berada di sana dan tak akan pernah berada di sana, tapi aku tahu segalanya. Aku mendengar semuanya. Aku selalu membayangkan berada di sana. Berdiri di antara pa’badong. Menari dan menyanyikan syair kedukaan. Melarut dalam gerak dan suara sambil membayangkan dirimu yang terbujur kaku dalam erong berpahat kerbau itu.
Seperti ketika aku masih berseragam putih biru. Kautuntun aku masuk ke dalam lingkaran pa’badong.
“Tapi aku tak hafal syairnya, Indok,” kataku tampak canggung.
“Dengarkan dan ikuti,” ujarmu sambil tersenyum.
Aku menautkan kelingkingku ke kelingkingmu. Lalu menajamkan telinga. Berusaha menangkap setiap kata yang terlafal dari mulut pa’badong. Seperti dengungan ribuan lebah. Bergerak sambil terus bergerak mengikuti irama. Maju. Mundur. Aku tersirap kata-kata. Tiba-tiba saja, bibirku sudah merapal syair-syair seolah aku telah menghafalnya sejak lama.
Namun, setelah 360 hari selepas kematianmu, aku hanya bisa duduk di depan erong-mu. Berbicara kepadamu, seolah-oleh nyawa masih bersemayam dalam tubuh kakumu. Mereka belum mau menganggapmu mati, sebelum aku merayakan pesta kematian untukmu. Pesta kematian bagi perempuan bergelar puang keturunan Tomanurung.
Padahal, semua kerbau dan babi milik kita sudah habis seluruhnya untuk merayakan pesta kematian Ambe’. Hanya tedong itu, tedong bonga pemberianmu, yang tersisa di dalam kandang kita.
Ah, mengapa begitu lekas kau menyusul Ambe’?

Sehabis ratapan memanggil ibunya;
Putuslah angin pada mulutnya;
Habislah jiwa pada badannya

Bagaikan suara lebah. Mendengung dan terus mendengung seolah memanggil sesiapa untuk masuk ke dalam lingkaran pa’badong di tengah lantang[6]. Lingkaran itu bagaikan semesta kesedihan yang menyedot siapa saja untuk larut dalam kenangan akan mendiang.
Aku tidak berada di sana dan tak akan mungkin berada di sana, tapi aku tahu segalanya. Aku mendengar semuanya. Aku selalu membayangkan berada di sana. Melafalkan kedukaan. Melarut dalam kesedihan yang maha seraya mengenang perjalanan hidupmu. Menapaki jejakmu pada lantai kayu dan anak tangga di tongkonan[7] kita.
“Menangislah, Nak, menangislah,” katamu, “jika itu bisa menghapus kesedihanmu. Nyanyikan saja dukamu.”
Indok, jangan tinggalkan aku,” mohonku ketika itu.
“Setiap orang pasti mati, Nak,” rintihmu, “di puya, di puya… negeri kita yang abadi.”
“Dengan apa aku mengantarmu ke puya? Tedong yang kita punya hanya tinggal seekor saja.”
“Menyanyilah, Nak,” pesanmu, “tarikan dukamu bersama pa’badong, pada tiap-tiap perayaan kematian. Syair-syair yang kaulafalkan akan mengantarkanku ke puya.”
Indok….”
“….”
Namun, setelah 360 hari selepas kematianmu, tak juga aku mampu memenuhi permintaanmu. Percuma. Nanyian dan tarian saja tidak akan mengantarkanmu ke surga. Begitu kata mereka. Tak ada puya tanpa tedong bonga bagi seorang puang Tomanurung. Seekor tedong bonga pemberianmu tak akan cukup membawamu ke puya. Masih perlukah aku ma’badong?

Bersama dengan asap bara api
Diikut-ikuti oleh awan
Ke selatan negeri tuhannya jiwa di negeri jiwa

Syair ratapan dilantunkan. Duka mengapung di atap bumi Rantepao. Orang-orang masih berdatangan. Sebagian memenuhi lantang. Sebagian turut bergabung dalam lingkaran bersama pa’badong, melantunkan syair ratapan. Menangisi keniscayaan kematian.
Aku tidak berada di sana dan tak akan mungkin berada di sana, tapi aku tahu segalanya. Aku mendengar semuanya. Aku selalu membayangkan berada di sana. Menyaksikan kerbau-kerbau itu diarak sebelum diikatkan pada menhir-menhir peninggalan masa silam sebelum di bawa ke tengah lapangan, siap untuk dikorbankan.
“Apakah kerbau-kerbau itu akan membawa Ambe’ ke puya, Indok?” tanyaku, saat menyaksikan puluhan kerbau yang kita pelihara dikorbankan untuk merayakan kematian Ambe’.
Kau tidak menjawab ketika itu. Hanya wajahmu menatap ke langit. Lalu jari telunjukmu menuntun pandanganku.
“Kerbau-kerbau itu, Indok!” ujarku, takjub menunjuk ke langit, “Mereka di sana, mereka di sana bersama Ambe’!”
Sebentar lagi. Ya, sebentar lagi… kerbau-kerbau itu akan mengantarkan Helena Rambulangi ke puya.
Namun, 360 hari selepas kematianmu, hanya seekor kerbau belang pemberianmu yang aku miliki. Apakah babi-babi pemberian sanak saudara kita cukup untuk mengantarmu ke puya?  Aku hanya anak muda yang tak punya pekerjaan kecuali memahat tau-tau dan kerajinan lain. Telah kubuatkan tau-tau terindah untukmu. Mereka pasti akan sulit membedakannya dengan dirimu.
Ah, rasanya sia-sia kubuat tau-tau itu. Ia tak akan mampu mengantarmu ke puya. Rasanya tak mungkin aku mendapatkan kerbau-kerbau itu. Apa boleh buat, pekerjaanku memahat hanya cukup untuk membuatku tak kelaparan. Dengan apa aku akan mengantarkanmu ke puya?

Ke selatan ujungnya langit
Ke selatan negeri tuhannya jiwa
Di sana negeri orang yang bersedih

Syair berkat telah dilantunkan. Keselamatan telah dimohonkan. Kerbau-kerbau digiring ke tengah lapangan, siap diadu sebelum dikorbankan. Orang-orang berkumpul melingkari arena menanti kerbau-kerbau itu saling beradu tanduk.
Aku tidak berada di sana dan tak akan mungkin berada di sana, tapi aku tahu segalanya. Aku megenang semuanya. Aku selalu membayangkan berada di sana. Mengenang kerbau belang kita yang jadi pemenang saat perayaan kematian Ambe’. Satu-satunya kerbau yang tersisa dalam kandang milik kita. Aku teringat pesanmu.
“Pelihara dia baik-baik,” wasiat Indok saat sakit tak lagi menemukan obatnya. “Kau lebih membutuhkanya daripada aku.”
“Lalu dengan apa Indok ke puya?” tanyaku memeram kesedihan.
“Dengan syairmu,” kata Indok memaksakan untuk tersenyum, “syair yang selalu kita nyanyikan bersama pada tiap-tiap ma’badong.”
“Tak ada puya tanpa tedong bonga, Indok.”
“Percayalah kepadaku.”
Kini, 360 hari selepas kematianmu, syair-syair itu mendengung-dengung terus di kepalaku. Tanpa kusadari, aku mulai menari sambil melafalkan syair kedukaan di hadapanmu. Sendiri. Ya, hanya seorang diri. Sambil membayangkan dirimu berada dalam erong tempat Helena Rambulangi disemayamkan. Mereka tak akan menyadarinya dan tak pernah akan menyadarinya.
Aku terus menari dan bernyanyi melantunkan kedukaan. Bergerak ke depan dan ke belakang sendirian. Hingga dari jendela kamar yang kubiarkan daunnya terbuka, ternampak dirimu di atas sebuah kerbau belang diiringi ratusan kerbau yang bergerak dan terus bergerak ke langit. Ke puya… di puya… negeri para leluhur berdiam.


Pulokambing, 13/12/12


[1] Terjemahan syair-syair ini diambil dari makalah Badong Sebuah Tari dan Nyanyian Kedukaan di Tana Toraja yang disusun oleh Harliati, Mahasiswi FIB UI.
[2] Orang yang menari dan menyanyikan syair kedukaan
[3] Melakukan tarian dan menyanyikan syair kedukaan
[4] Surga
[5] Peti mati
[6] Rumah-rumah bambu yang didirikan saat upacara Rambu Solo’
[7] Rumah adat suku Toraja berbentuk seperti perahu, selalu menghadap ke arah utara


Minggu, 23 Desember 2012

Selingkuh



Suami istri tidur saling memunggung. Wajah mereka tampak bahagia. Membayangkan sebuah percintaan.

depok, 23/12/12

Sabtu, 22 Desember 2012

Menulis Cerita


Larut malam, pengarang asah pena. Senja tadi, peristiwa menantangnya bertarung di secarik kertas. Mereka bersiap membunuh atau terbunuh.

depok, 22/12/12

Kesaksian Bendahara Sebuah Partai



Seorang presiden, mantan mentri, dan ketua sebuah partai bertemu di ruang sidang.

depok, 22/12/12

Minggu, 02 Maret 2008

Melly

Jawa Pos, 2 Maret 2008


Seketika mata Masayu membuka. Lewat pukul sembilan malam ketika lubang pernafasaannya membaui aroma dari daging yang terbakar. Matanya membelalak menyaksikan api merambat cepat. Dia merasakan panas di sekujur tubuhnya.

***

Pernahkah dalam hidupmu, kau merasakan kebencian yang teramat hebat? Sehingga apapun yang ada di kepalamu selalu tentang bagaiman cara melampiaskannya?

Kami hanya dua gadis lugu yang tak pernah tahu arti membenci. Sebelum perceraian Mami dan Papi menyadarakan kami akan arti memiliki. Kami baru menyadari kalau selama ini kami tak pernah benar-benar memiliki Mami. Mungkin juga begitu yang dirasakan oleh Papi. Sehingga dia lebih memilih berpisah dengan Mami, daripada hidup bersama tetapi tidak merasa memiliki.

Namanya Melly. Tubuhnya tak lebih dari dua puluh centi. Bulunya kuning pudar dimakan usia. Hidungnya bulat berwarna cokelat tua. Moncongnya putih gading. Kau pasti menduga kalau Melly seekor binatang piaraan? Hampir tepat. Dia memang menyerupai binatang. Tapi bukan binatang. Karena dia tidak bernyawa. Dia hanya sebuah boneka. Boneka beruang kepunyaan Mami. Tapi meski hanya sebuah boneka beruang, di mata Mami, Melly lebih manusia dari manusia. Sehingga ia harus diperlakukan dengan istimewa. Sampai-sampai Mami lupa kalau dia memiliki dua orang putri berusia 13 dan 10 tahun. Dua orang putri bernama Bening dan Rani—kami—yang lebih butuh perlakuan istimewa darinya.

Kapan persisnya boneka itu hadir dalam kehidupan Mami, kami berdua tidak mengetahui. Bahkan Papi pun tidak. Menurut Papi, Melly sudah ada sejak pertama Papi mengenal Mami, saat mereka seusia kami. Tempat tinggal mereka memang saling berhadap-hadapan ketika itu.

Mami tak pernah suka jika kami bertanya soal Melly. ”Kalian tidak perlu tahu.” Begitu. Selalu. Kalimat yang keluar dari mulut Mami. Dan kami harus diam kalau tak mau melihat mulut Mami mengeluarkan api, yang bisa membakar gendang telinga. Setelah itu, Mami biasanya akan mengunci diri di dalam perpustakaan yang menjadi ruang kerjanya. Atau pergi ke kafe berdiskusi dengan teman-temannya sesama penulis.

Sejak buku perdana yang ditulis oleh Mami dicetak berulang-ulang oleh perusahaan yang menerbitkannya, Mami semakin jarang saja di rumah. Ada saja undangan yang memintanya menjadi pembicara dalam seminar sastra. Rutinitas diskusi dengan teman-temannya sesama penulis di kafe menjadi kian bertambah. Hampir bisa dihitung berapa kali dalam satu minggu Mami menginjakkan kaki di lantai rumahnya. Kalau pun Mami terpaksa harus di rumah, dia lebih suka mengunci diri di dalam ruang kerjanya.

Belakangan kesibukan Mami bertambah. Dia tak lagi hanya menulis cerpen atau novel saja, tetapi juga skenario film. Tak cukup sampai di situ. Mami juga bertindak sebagai sutradara dari film yang diproduserinya sendiri itu. Sebagai buah dari perkawinan seorang aktris dengan sutradara ternama pada eranya, Mami  mewarisi darah sebagai pembuat film. Dan itu yang sedang coba dibuktikannya dengan memproduksi film yang diangkat dari novel karyanya. Novel dengan nama tokoh yang sama dengan nama panggilannya ketika kecil.

Tak tersisa lagi waktu untuk mengurus kami serta Papi. Sampai kemudian Papi memilih hidup berpisah dari Mami. Semula ia ingin membawa kami serta. Tetapi Mami tak mengijinkannya. Karena sebagai perempuan yang melahirkan kami, dia merasa lebih berhak untuk memiliki, walau pada kenyataannya kami tak pernah merasa menjadi miliknya. Kami tak lebih hanya boneka yang menghiasi rak pajang di rumah Mami. 

Tapi tidak dengan Melly. Dia selalu ada di dekat Mami. Setiap saat. Menjadi bayangan. Dia akan menghiasi meja kerja Mami, ketika ia sedang mengetik cerita di dalam perpustakaan sekaligus ruang kerjanya. Jika Mami pergi, Melly tak pernah tertinggal, dia akan menghuni tas Mami. Bahkan ketika mandi Mami sering pula mengajaknya berendam dalam bathtub.

Bahkan saat Mami naik ke ranjang untuk istirahat pada siang atau malam hari, Melly selalu menyertai. Padahal, sejak kami masih bayi, belum pernah kami tidur dikeloni Mami. Kami dibuatkan kamar sendiri. Hanya Papi yang sesekali membacakan buku cerita sebelum kami memejamkan mata. Tapi setelah Papi tak tinggal lagi bersama Mami, kami hanya bisa menangis sambil berpelukan, jika hujan datang bersama angin kencang. Dan kilat yang menyambar-nyambar, memadamkan aliran listrik di rumah kami. Bik Inah hanya datang untuk mengerjakan pekerjaan rumah. Sore hari dia pulang ke tengah keluarganya. Sehingga kami hanya berdua saja pada malam hari, jika Mami tak ada.

Begitulah. Kami akhirnya menyadari. Kalau Melly telah merebut Mami dari kami. Membuat kami mengerti betapa kami tak pernah memiliki Mami. Sehingga kami merasa begitu membencinya. Dan apa yang ada di kepala kami tentang Melly, selalu mengenai bagaimana cara memisahkan Mami dari boneka beruang itu. Boneka beruang yang entah semenjak kapan menjadi bagian tak terpisahkan dari diri Mami.

”Papi lupa kapan tepatnya.” Suatu kali Papi bercerita kepada kami tentang Mami kecil dan boneka beruangnya—Melly. ”Yang Papi ingat, satu hari setelah keluarga Papi mendiami rumah di depan tempat tinggal Mami kalian. Untuk pertama kalinya Papi melihat Mami kalian sedang bermain sendirian di teras depan. Semula Papi pikir dia sedang berdua dengan seorang temannya. Karena Papi mendengar dia berbicara. Tapi setelah Papi yakin tak melihat siapa pun di sana, baru Papi tahu kalau Mami sedang berbicara dengan boneka beruangnya. Belakangan Papi tahu namanya Melly. Sejak saat itu Papi merasa jatuh cinta dengan Mami kalian.”

”Jadi Melly sudah ada sejak Mami kecil?”

”Seingat Papi begitu. Dan sepertinya Melly begitu berharga. Karena siapa saja yang coba merebutnya, Mami pasti melawannya.”

”Kenapa Melly begitu berharga?”

”Entahlah. Mungkin karena hanya Melly saja temannya, sebelum dia mengenal Papi. Almarhumah Oma sering meninggalkan Mami kalian sendirian di rumah untuk syuting film. Kadang sampai tiga hari tidak pulang.”

”Opa?”

”Opa sama saja. Dia sibuk membuat film. Kadang berminggu-minggu tidak pulang ke rumah. Mungkin juga karena itu mereka akhirnya berpisah.”

“Siapa yang berpisah?”

“Opa dan Oma.”

“Seperti Papi dengan Mami?”

“Ya, seperti Papi dengan Mami.”

”Lalu apa hubungannya dengan Melly?”

”Papi tak tahu persis. Tapi setelah perpisahan Opa dengan Oma, Mami tak pernah lagi terlihat main bersama Melly.”

”Melly hilang?”

”Semula Mami mengira begitu. Dan kemurungan menjadi karib akrabnya selain Papi. Setahun kemudian, saat Opa sakit keras, barulah ia tahu kalau Melly ada bersama Opa. Rupanya saat meninggalkan rumah, untuk kembali pada istri pertamanya, Opa membawa serta Melly. Opa meninggal dunia sambil memeluk Melly. Konon, sejak dipisahkan dari Mami, Opa memperlakukan Melly selayaknya anak sendiri. Menggendongnya ke mana-mana. Mengajaknya bercanda. Sampai-sampai orang-orang mengira kalau Opa sudah kehilangan akalnya.”

”Apakah Mami mengetahui soal itu?”

”Sepertinya begitu. Karena sekejap sebelum ajal menjemput Opa, Mami melihat sendiri Opa memeluk boneka beruang kesayangan Mami, sambil memanggil-manggil nama Mami.”

”Bagaimana Papi mengetahuinya?”

”Karena Papi juga ada di sana. Menemani Mami. Sehingga Papi bisa melihat bagaimana haru memendar dari wajah Mami. Tapi Mami tidak menangis. Dia malah tersenyum. Melepaskan Melly dari pelukan Opa. Lalu mencium kening Opa penuh cinta. Entah apa yang bermain di dalam hatinya. Papi tak mengetahuinya. Tapi semenjak hari itu. Mami kian lekat saja dengan Melly. Keduanya seperti dua tubuh dengan satu jiwa. Dan dia semakin tak peduli apakah Oma akan pulang ke rumah setiap hari, tiga hari sekali, atau bahkan seminggu sekali untuk syuting di dalam maupun luar kota.”

Begitulah. Melly menjadi bagian penting dalam sejarah hidup Mami. Mengalahkan Papi serta kami. Mami tak segan-segan membentak, bahkan sampai memukul. Jika ada salah satu dari kami berusaha merebut perhatiannya dari Melly dengan ’menyakiti’ boneka beruang itu. Ia seperti tak rela Melly disentuh oleh siapa pun. Bahkan oleh kami, anak-anaknya.

Bukan sekali dua kami coba menyingkirkan Melly dari sisi Mami. Tapi entah bagaimana, boneka itu selalu punya cara untuk kembali. Pernah kami mendapat kesempatan untuk menyingkirkan Melly. Kebetulan Mami sedang keluar kota  mendapat undangan membacakan cerpen-cerpennya di sebuah seminar sastra. Pesawat yang menuju bandara Adi Sucipto lepas landas pukul 8.15.  Pukul enam  tepat Mami masih berada di rumah. Saking terburu-buru dia lupa membawa Melly serta. Kesempatan ini tak kami sia-siakan. Kami segera membuang Melly ke tong sampah di dekat sekolah, jauh dari rumah.

Kami tersenyum puas. Merayakannya dengan bernyanyi-nyanyi di rumah sepanjang hari, sepulang dari sekolah. Tapi sore hari. Pintu rumah kami diketuk. Bik Inah membukakan pintu. Kau tahu siapa yang datang? Mami! Seharusnya baru besok Mami kembali dari Jogja. Dan yang lebih mengejutkan lagi, Mami tidak kembali seorang diri. Tangan kanannya memegang sebuah boneka. Boneka beruang. Si Melly! Entah bagaimana Melly bisa berada di tangannya. Tapi yang pasti, kami harus bersiap menerima akibatnya. Mami mengurung kami di kamar mandi tanpa makanan semalaman. Dan baru mengeluarkan kami saat matahari menyembul di sela reranting pohon yang merimbun di pekarangan rumah.

Rupanya seorang tukang beling memungut Melly dari tong sampah. Memberikan boneka beruang itu kepada anak perempuannya. Bukan sebuah kebetulan kalau kemudian anak itu bermain-main di taman dekat rumah kami, saat Mami bersama taksi yang mengantarnya melintas di taman itu, dan melihat boneka kesayangannya ada di tangan anak perempuan itu. Pasti semua ini berkat Melly! Kami merasa ada sesuatu pada boneka itu. Seperti ada kekuatan yang berdiam di dalam dirinya.

Tapi kali ini kami tak boleh gagal. Karena kami tak ingin Mami mengurung kami lagi di kamar mandi semalaman tanpa diberi makan. Bisa jadi kalau kali ini ketahuan lagi, Mami akan melakukan tindakan yang lebih menyakitkan dari yang kami alami waktu itu. Bukan tak mungkin dia mengusir kami. Atau bahkan membunuh kami? Sepertinya terlalu berlebihan. Tapi tak ada yang berlebihan bagi Mami. Apalagi kalau itu menyangkut Melly.

Sepanjang malam tadi Mami tak memejamkan mata. Begitulah kebiasaannya. Dia baru tertidur hanya ketika suara azan subuh menggenta di udara. Sehingga dia hampir tak pernah bangun pada jam 7 pagi, kecuali ada hal yang tak bisa dilewatkan. Sebab itu dia memilih untuk tidak tidur saja sekalian. Karena takut kesiangan. Sebab pagi-pagi buta dia sudah harus meninggalkan rumah. Menuju bandara Soekarno-Hatta. Ada undangan menghadiri seminar sastra di Samarinda. Mami juga tak lupa membawa Melly serta di dalam kopernya.

Tapi diam-diam, kami berhasil mengeluarkan Melly dari dalam koper tanpa sepengetahuan Mami. Kau tak perlu tahu bagaimana cara kami melakukannya. Karena kami percaya kau bukan seorang dungu yang menganggap kami berdua anak kecil yang bodoh yang tak mungkin melakukannya.

Begitulah. Melly akhirnya ada bersama kami. Tak ada lagi tukang beling yang akan memungutnya dari tong sampah. Tak akan ada lagi anak perempuan yang bermain-main di taman dekat rumah kami bersama boneka beruang Mami. Karena kami tak akan membuang Melly begitu saja ke tong sampah. Tapi akan membakarnya. Ya, kami akan membakarnya! Bukankah kita harus belajar dari pengalaman?

Tapi kami tidak akan membuat segalanya menjadi mudah bagi Melly. Sebelum kami membakarnya, kami bermaksud untuk melampiaskan kekesalan kami selama ini dengan ’menyakitinya’. Benar-benar membuat boneka beruang itu tersiksa karena telah membuat Mami mengabaikan kami. Dan menyebabkan perceraian kedua orang tua kami. Sepertinya bodoh mengharapkan sebuah boneka merasa tersiksa? Karena boneka adalah benda mati. Tapi kami merasa Melly hidup. Seperti manusia. Atau Makhluk selain manusia? Entahlah. Kami tak terlalu mempedulikannya.

Malam hari setelah kami puas melampiaskan kebencian pada boneka beruang itu. Kami membawa Melly ke pekarangan belakang rumah. Meletakkannya di bawah rindang akasia. Lalu menyiramkan sebotol minyak tanah ke tubuh Melly. Kami berdua tersenyum-senyum sebelum melemparkan batang korek api yang menyala ke tubuh Melly. Dan sedetik kemudian. Blar! Api menjilati boneka beruang itu!

***

Pagi itu Bening dan Rani tak segera membuka mata. Mereka terlalu mengantuk. Setelah semalaman merayakan keberhasilan mereka mengenyahkan Melly. Sehingga mereka harus melewatkan berita pagi di televisi. Tentang seorang penulis perempuan yang meninggal dunia karena terbakar di dalam sebuah kamar hotel di samarinda.



Depok, 04/08/06  11:52
 
 
Copyright © album fiksi
Blogger Theme by BloggerThemes Design by Diovo.com