Oleh Depo
Sesaat
setelah aku berhasil menggapai setitik cahaya di ujung lorong itu, aku
menemukan seraut wajah berkalang duka, duduk bersimpuh di depan sesosok tubuh
membeku. Kamu. Ya. Kamu yang selama dua tahun ini menjadi bagian dari hembusan
nafasku. Sebelum… Ah, kulihat sungai mengalir dari ujung matamu. Mungkin hari
ini akan menjadi hari terakhir aku melihatmu.
Aku merogoh kantung-kantung masa lalu. Ah, kamu masih ada di
situ. Senyumku mengembang mengenang semua hal yang pernah kita lakukan bersama.
Saat kamu menjadi hembusan nafasku. Sesuatu yang mungkin tak akan pernah lagi
kutemukan setelah hari ini.
Kita bertemu dua tahun yang lalu. Saat aku berjuang menaklukkan
letih dan rasa putusasaku. Saat nafasku satu-satu, meniti setapak yang
menanjak, membelah hutan, menyeberangi savana, melintasi danau, merayapi
bebatuan di lereng-lereng Semeru.
Aku satu-satunya wanita di antara ketiga temanku yang kesemuanya
laki-laki. Sementara kamu hanya seorang diri. Aku memang terbiasa mendaki gunung.
Menikmati sentuhan tangan-tangan Ilahi pada pepohonan, bebatuan, riak mata air,
kicau burung, lenguh angin, letup kawah dan cakrawala ketika fajar dan senja
mementaskan teater jingga, menjadi akhir dan awal kembara hari sang bagaskara.
Tapi baru kali itu kulihat seseorang melakukan pendakian seorang diri. Apalagi
mendaki ke Mahameru, yang merupakan gunung tertinggi di pulau Jawa. Ah, kamu
langsung membuatku kagum saat itu.
Arloji di pergelangan tanganku menunjuk angka 02.00, saat aku
dan ketiga temanku meninggalkan Arcopodo, menuju Puncak Semeru. Kulihat kamu
berada beberapa langkah di belakang. Butuh waktu tiga sampai empat jam untuk
dapat tiba di Mahameru dari Arcopodo yang merupakan batas vegetasi, itu yang
dikatakan oleh teman-temanku.
Kabut memagut. Menusuk. Melesakkan butir-butir embun sampai ke
tulang. Menggigilkan. Pelan-pelan aku pijaki batuan pasir yang mudah
menggelincir. Dan kulihat di belakang, kamu, sesekali terpaksa harus menghindar
dari runtuhan kerikil yang kupijaki.
Setelah dua jam berjalan nyaris tanpa istirahat yang berarti,
langkahku mulai tertinggal beberapa kaki di belakang ketiga temanku. “Jalan aja
terus! Aku gak apa-apa!” aku meneriaki ketiga temanku yang tak sabar menungguku
yang mulai kepayahan.
“Air?” kamu tawarkan botol minumanmu kepadaku.
“Wah, kebetulan!” aku ambil botol air mineral dari tanganmu.
Lalu bagai huma yang merindukan renik hujan, kutuang sebotol air mineral ke dalam kerongkongku yang
melepuh.
“Ups…habis…,” aku meringis menanti reaksi darimu.
Segaris senyum terbit di raut letihmu. Ah, senyum itu… rasanya
tak rela kalau harus melupakan senyum itu untuk selamanya. Apakah di sana, aku
akan bisa menikmati senyummu itu? Entahlah.
“Lanjut?” tantangmu.
“Siapa takut!” aku menukas.
Lalu kita melanjutkan pendakian.
“Masih berapa lama lagi?”
“Kalau nggak terlalu banyak istirahat, gak lebih dari sejam kita
sudah sampai ke Mahameru untuk menyaksikan sunrise.”
“Wah…
masih cukup jauh, ya? Ini pendakian pertamaku ke Semeru.”
“Kenapa? Mau nyerah?” godamu
“No retread! No surrender!” tegasku
Ada kagum di binar matamu, saat aku mengatakan itu.
“Tapi…”
“Kenapa
lagi?”
“Masih punya air?”
“Tenang aja, masih ada beberapa botol lagi.”
“Yes! Aman.” Kataku. Ah, lagi-lagi kamu mempertontonkan
senyummu itu.
Teja sempurna membakar cakrawala. Menyemburat. Mengurai mega
yang arak berarak. Setelah tiga jam lebih berjalan dari Arcopodo, kita berhasil
menyinggahi puncak Mahameru, dataran tertinggi di pulau jawa.
Tak ada kata-kata yang keluar dari mulutku. Sebab aku tak
menemukan kata-kata yang tepat untuk melukiskan keindahan yang membentang di
pelupuk mataku.Tak bedanya dengan kamu. Meski waktu itu kau katakan kepadaku
kalau itu merupakan kali kedua kamu menjejakkan kaki di puncak itu.
Dan tanpa kusadari, aku telah berada di dalam dekapanmu. Kita
seperti sepasang merpati berhati renjana.
Lucu,
memang. Kita bahkan belum saling menyebutkan nama. Padahal, sepanjang sisa
pandakian saat itu, kita banyak bertukar cerita. Tapi kita malah lupa saling
memperkenalkan nama kita. Kalau saja ketiga temanku yang sudah lebih dulu
sampai tidak mengerumuni kita dengan mata-mata yang memeram ribuan tanda tanya,
mungkin kita tak akan pernah menyadari kalau kita memang belum saling
berkenalan secara resmi. Kita begitu terbawa suasana.
“Eh, so..sori…?” kataku dengan rona muka yang memerah dadu,
serupa dengan wajahmu saat itu. Lalu kita sama-sama terjebak dalam kekakuan
yang membingungkan. Celetukan-celetulan jahil segera berhamburan dari mulut
ketiga temanku.
“Sendirian?” tanya Janu salah seorang temanku yang berwajah
oriental, mencairkan kebekuan.
“Berdua dengan porter,” katamu, “dia nunggu di Arcopodo.”
Setelah
itu baru kita saling berkenalan. Dan tentunya, tak lupa kita juga saling
memperkenalkan nama kita masing-masing. Ha ha ha…
Ah,
aku selalu tak mampu menahan tawa setiap kali terkenang awal pertemuan kita…
Aku tak membutuhkan waktu lama untuk menyadari, bahwasannya
cinta telah menentukan pilihannya. Kubiarkan kepak sayap-sayap cinta
menerbangkan kepingan hatiku yang renjana.
Hanya beberapa saat kamu tiba di rumahmu, kamu menelponku. Aku
sendiri yang mengangkan telepon darimu itu. Kamu katakan kepadaku kalau kamu
bahkan belum bertemu dengan kedua orang tuamu. Dan seperti tak mau membuang
waktu, kau ungkapkan sesuatu yang membuat aku sangat terkejut saat itu. Kamu
katakan kepadaku: “Aku mencintaimu!”
Ah, aku langsung membisu. Segera kututup telepon. Ah, kalau saja
kamu bisa melihat rona merah di wajahku saat itu. Aku bahkan sampai
melompat-lompat kegirangan, sebelum meneleponmu. Dan kukatakan kepadamu, “Aku
juga mencintaimu!”
Tak ada kebahagianan yang melebihi kebahagiaan yang kurasakan
saat itu. Kalau saja tak ada jarak yang memisahkan kita, Aku akan berlari ke
rumahmu. Tapi… pantas gak ya? Ah, kenapa harus nggak pantas. Yang pasti, aku
ingin sekali bisa menikmati senyummu itu!
Dan
mulai detik itu, kamu adalah bagian dari hembusan nafasku. Hidup di organ
paru-paruku. Menjelma udara di sekitarku. Menyatu dalam setiap tarikan nafasku.
Kapan pun dan di mana pun aku, selama nafas ini masih berhembus, maka kamu akan
selalu ada dalam diriku. Tak peduli ratusan mil jarak yang membentang di antara
kita. Kita akan selalu bersatu, sampai Izrail menemukan nama salah satu di
antara kita tertulis di atas selembar daun yang jatuh di kakinya.
Dua
tahun masa yang bahagia. Kalau kebahagian memang benar nyata adanya. Masa yang
hampir sempurna. Kesempurnaan yang tentunya tak akan tersempurnakan kini. Sebab
yang tertinggal hanya kegetiran menyaksikan dirimu menangis memandangi seonggok
tubuh membeku yang terbujur di hadapanmu.
Semestinya
ini hari yang sangat bahagia. Sebab pada hari ini semua orang merayakan hari
Kasih Sayang. Mungkin dirasa perlu merayakan hari Kasih Sayang… semenjak negeri
ini terkungkung dalam krisis multi dimensi, kasih sayang jadi serupa
mimpi-mimpi yang hanya bisa kita nikmati saat tidur malam. Atau kehidupan kini
memang layaknya mimpi-mimpi? Kalau iya, aku ingin segera bangun dari tidur dan
melupakan mimpi buruk yang sedang kujalani saat ini. Tapi mana mungkin… aku tak
mungkin merubah takdir yang telah digariskan.
“Telah kutempuh ratusan mil jarak yang membentang antara
Jakarta-Yogyakarta hanya untuk berbagi kasih sayang di hari Kasih Sayang,
dengan seseorang yang selama ini menghuni organ paru-paruku, menjelma udara di
sekitarku, menjadi bagian dari hembusan nafasku dan menyatu dalam setiap
tarikan nafasku. Sebab kau adalah kekasihku.” Begitu yang kau ucapkan di
sela-sela tangismu. Dan itu pula yang menjadi keinginanku. Ah, kalau saja kamu
bisa mendengarku… tapi kamu tak mungkin mendengarku. Jadi aku tak mengatakan
apa-apa kepadamu. Aku hanya diam saja. Sambil menangis. Sambil menangis.
Terkadang keinginan memang tak selalu segaris dengan kenyataan.
Kemarin, Aku masih bisa bermain-main dengan bayangan wajahmu. Berharap dia
terlambat menjemputku. Aku masih ingin merasakan dirimu seutuhnya, bukan dirimu
yang menjelma udara di sekitarku. Aku ingin menyentuh wajahmu dengan jemariku,
merasakan desah nafasmu di telingaku, membenamkan tubuhku ke bidang dadamu,
lalu kita menyatu dalam setiap tarikan nafas. Seperti Sam Pek- Eng Tay, kita
akan menjelma sepasang merpati berhati renjana, bercinta di layar jingga
cakrawala ketika fajar memendar dari balik Puncak Mahameru.
Tapi, dia tak mungkin mengundurkannya barang sedetik pun. Karena
itu yang telah ditetapkan oleh-Nya. Dia hanya menjalankan apa yang
diperintahkan oleh-Nya. Tak mungkin membantah. Karena dia memang diciptakan
untuk melakukan tugas itu. Memisahkan nyawa dari raga tiap manusia, ketika
telah sampai waktunya tiba.
Ya. Dia yang kumaksud adalah, Sang Maut. Izrail! Hari ini,
namaku telah tertulis di atas selembar daun yang jatuh di kakinya. Dua tahun
aku telah merahasiakan penyakitku padamu. Sudah lama kanker itu bersarang di
otakku. Aku melakukan itu karena tak mau kamu bersedih. Aku tak sanggup melihat
telaga matamu mengering. Dan kini, harus kubawa rahasia itu ke liang kuburku.
Depo… akhirnya aku hanya bisa berharap, semoga namaku akan
selalu terpahat di kepingan hatimu. Seperti namamu yang akan selalu terpahat di
dinding pusara hatiku. Maaf kalau kepergianku yang tanpa permisih, membuat
hatimu merengkah luka.
Sudah ya, Depo… Awan hitam telah menyelimuti langit di atas
kepala. Hujan sebentar lagi akan tercurah. Seperti airmatamu. Seperti
airmataku. Yang akan mengiringi kepergianku. Dan itu tandanya, kamu harus segera
menguburku.
Selamat tinggal!
0 komentar:
Posting Komentar