Senin, 13 Oktober 2014

Elegi 14 Februari

Oleh Depo

Sesaat setelah aku berhasil menggapai setitik cahaya di ujung lorong itu, aku menemukan seraut wajah berkalang duka, duduk bersimpuh di depan sesosok tubuh membeku. Kamu. Ya. Kamu yang selama dua tahun ini menjadi bagian dari hembusan nafasku. Sebelum… Ah, kulihat sungai mengalir dari ujung matamu. Mungkin hari ini akan menjadi hari terakhir aku melihatmu.
Aku merogoh kantung-kantung masa lalu. Ah, kamu masih ada di situ. Senyumku mengembang mengenang semua hal yang pernah kita lakukan bersama. Saat kamu menjadi hembusan nafasku. Sesuatu yang mungkin tak akan pernah lagi kutemukan setelah hari ini. 
Kita bertemu dua tahun yang lalu. Saat aku berjuang menaklukkan letih dan rasa putusasaku. Saat nafasku satu-satu, meniti setapak yang menanjak, membelah hutan, menyeberangi savana, melintasi danau, merayapi bebatuan di lereng-lereng Semeru.
Aku satu-satunya wanita di antara ketiga temanku yang kesemuanya laki-laki. Sementara kamu hanya seorang diri. Aku memang terbiasa mendaki gunung. Menikmati sentuhan tangan-tangan Ilahi pada pepohonan, bebatuan, riak mata air, kicau burung, lenguh angin, letup kawah dan cakrawala ketika fajar dan senja mementaskan teater jingga, menjadi akhir dan awal kembara hari sang bagaskara. Tapi baru kali itu kulihat seseorang melakukan pendakian seorang diri. Apalagi mendaki ke Mahameru, yang merupakan gunung tertinggi di pulau Jawa. Ah, kamu langsung membuatku kagum saat itu.
Arloji di pergelangan tanganku menunjuk angka 02.00, saat aku dan ketiga temanku meninggalkan Arcopodo, menuju Puncak Semeru. Kulihat kamu berada beberapa langkah di belakang. Butuh waktu tiga sampai empat jam untuk dapat tiba di Mahameru dari Arcopodo yang merupakan batas vegetasi, itu yang dikatakan oleh teman-temanku.
Kabut memagut. Menusuk. Melesakkan butir-butir embun sampai ke tulang. Menggigilkan. Pelan-pelan aku pijaki batuan pasir yang mudah menggelincir. Dan kulihat di belakang, kamu, sesekali terpaksa harus menghindar dari runtuhan kerikil yang kupijaki.
Setelah dua jam berjalan nyaris tanpa istirahat yang berarti, langkahku mulai tertinggal beberapa kaki di belakang ketiga temanku. “Jalan aja terus! Aku gak apa-apa!” aku meneriaki ketiga temanku yang tak sabar menungguku yang mulai kepayahan.
“Air?” kamu tawarkan botol minumanmu kepadaku.
“Wah, kebetulan!” aku ambil botol air mineral dari tanganmu. Lalu bagai huma yang merindukan renik hujan, kutuang sebotol  air mineral ke dalam kerongkongku yang melepuh.
Ups…habis…,” aku meringis menanti reaksi darimu.
Segaris senyum terbit di raut letihmu. Ah, senyum itu… rasanya tak rela kalau harus melupakan senyum itu untuk selamanya. Apakah di sana, aku akan bisa menikmati senyummu itu? Entahlah.
“Lanjut?” tantangmu.
“Siapa takut!” aku menukas.
Lalu kita melanjutkan pendakian.
“Masih berapa lama lagi?”
“Kalau nggak terlalu banyak istirahat, gak lebih dari sejam kita sudah sampai ke Mahameru untuk menyaksikan sunrise.”
“Wah… masih cukup jauh, ya? Ini pendakian pertamaku ke Semeru.”
“Kenapa? Mau nyerah?” godamu
No retread! No surrender!” tegasku
Ada kagum di binar matamu, saat aku mengatakan itu.
“Tapi…”
“Kenapa lagi?”
“Masih punya air?”
“Tenang aja, masih ada beberapa botol lagi.”
Yes! Aman.” Kataku. Ah, lagi-lagi kamu mempertontonkan senyummu itu.
Teja sempurna membakar cakrawala. Menyemburat. Mengurai mega yang arak berarak. Setelah tiga jam lebih berjalan dari Arcopodo, kita berhasil menyinggahi puncak Mahameru, dataran tertinggi di pulau jawa.
Tak ada kata-kata yang keluar dari mulutku. Sebab aku tak menemukan kata-kata yang tepat untuk melukiskan keindahan yang membentang di pelupuk mataku.Tak bedanya dengan kamu. Meski waktu itu kau katakan kepadaku kalau itu merupakan kali kedua kamu menjejakkan kaki di puncak itu.
Dan tanpa kusadari, aku telah berada di dalam dekapanmu. Kita seperti sepasang merpati berhati renjana.
Lucu, memang. Kita bahkan belum saling menyebutkan nama. Padahal, sepanjang sisa pandakian saat itu, kita banyak bertukar cerita. Tapi kita malah lupa saling memperkenalkan nama kita. Kalau saja ketiga temanku yang sudah lebih dulu sampai tidak mengerumuni kita dengan mata-mata yang memeram ribuan tanda tanya, mungkin kita tak akan pernah menyadari kalau kita memang belum saling berkenalan secara resmi. Kita begitu terbawa suasana.
“Eh, so..sori…?” kataku dengan rona muka yang memerah dadu, serupa dengan wajahmu saat itu. Lalu kita sama-sama terjebak dalam kekakuan yang membingungkan. Celetukan-celetulan jahil segera berhamburan dari mulut ketiga temanku.
“Sendirian?” tanya Janu salah seorang temanku yang berwajah oriental, mencairkan kebekuan.
“Berdua dengan porter,” katamu, “dia nunggu di Arcopodo.”
Setelah itu baru kita saling berkenalan. Dan tentunya, tak lupa kita juga saling memperkenalkan nama kita masing-masing. Ha ha ha…
Ah, aku selalu tak mampu menahan tawa setiap kali terkenang awal pertemuan kita…
Aku tak membutuhkan waktu lama untuk menyadari, bahwasannya cinta telah menentukan pilihannya. Kubiarkan kepak sayap-sayap cinta menerbangkan kepingan hatiku yang renjana.
Hanya beberapa saat kamu tiba di rumahmu, kamu menelponku. Aku sendiri yang mengangkan telepon darimu itu. Kamu katakan kepadaku kalau kamu bahkan belum bertemu dengan kedua orang tuamu. Dan seperti tak mau membuang waktu, kau ungkapkan sesuatu yang membuat aku sangat terkejut saat itu. Kamu katakan kepadaku: “Aku mencintaimu!”
Ah, aku langsung membisu. Segera kututup telepon. Ah, kalau saja kamu bisa melihat rona merah di wajahku saat itu. Aku bahkan sampai melompat-lompat kegirangan, sebelum meneleponmu. Dan kukatakan kepadamu, “Aku juga mencintaimu!”
Tak ada kebahagianan yang melebihi kebahagiaan yang kurasakan saat itu. Kalau saja tak ada jarak yang memisahkan kita, Aku akan berlari ke rumahmu. Tapi… pantas gak ya? Ah, kenapa harus nggak pantas. Yang pasti, aku ingin sekali bisa menikmati senyummu itu!
Dan mulai detik itu, kamu adalah bagian dari hembusan nafasku. Hidup di organ paru-paruku. Menjelma udara di sekitarku. Menyatu dalam setiap tarikan nafasku. Kapan pun dan di mana pun aku, selama nafas ini masih berhembus, maka kamu akan selalu ada dalam diriku. Tak peduli ratusan mil jarak yang membentang di antara kita. Kita akan selalu bersatu, sampai Izrail menemukan nama salah satu di antara kita tertulis di atas selembar daun yang jatuh di kakinya.
Dua tahun masa yang bahagia. Kalau kebahagian memang benar nyata adanya. Masa yang hampir sempurna. Kesempurnaan yang tentunya tak akan tersempurnakan kini. Sebab yang tertinggal hanya kegetiran menyaksikan dirimu menangis memandangi seonggok tubuh membeku yang terbujur di hadapanmu.
Semestinya ini hari yang sangat bahagia. Sebab pada hari ini semua orang merayakan hari Kasih Sayang. Mungkin dirasa perlu merayakan hari Kasih Sayang… semenjak negeri ini terkungkung dalam krisis multi dimensi, kasih sayang jadi serupa mimpi-mimpi yang hanya bisa kita nikmati saat tidur malam. Atau kehidupan kini memang layaknya mimpi-mimpi? Kalau iya, aku ingin segera bangun dari tidur dan melupakan mimpi buruk yang sedang kujalani saat ini. Tapi mana mungkin… aku tak mungkin merubah takdir yang telah digariskan.
“Telah kutempuh ratusan mil jarak yang membentang antara Jakarta-Yogyakarta hanya untuk berbagi kasih sayang di hari Kasih Sayang, dengan seseorang yang selama ini menghuni organ paru-paruku, menjelma udara di sekitarku, menjadi bagian dari hembusan nafasku dan menyatu dalam setiap tarikan nafasku. Sebab kau adalah kekasihku.” Begitu yang kau ucapkan di sela-sela tangismu. Dan itu pula yang menjadi keinginanku. Ah, kalau saja kamu bisa mendengarku… tapi kamu tak mungkin mendengarku. Jadi aku tak mengatakan apa-apa kepadamu. Aku hanya diam saja. Sambil menangis. Sambil menangis.
Terkadang keinginan memang tak selalu segaris dengan kenyataan. Kemarin, Aku masih bisa bermain-main dengan bayangan wajahmu. Berharap dia terlambat menjemputku. Aku masih ingin merasakan dirimu seutuhnya, bukan dirimu yang menjelma udara di sekitarku. Aku ingin menyentuh wajahmu dengan jemariku, merasakan desah nafasmu di telingaku, membenamkan tubuhku ke bidang dadamu, lalu kita menyatu dalam setiap tarikan nafas. Seperti Sam Pek- Eng Tay, kita akan menjelma sepasang merpati berhati renjana, bercinta di layar jingga cakrawala ketika fajar memendar dari balik Puncak Mahameru.
Tapi, dia tak mungkin mengundurkannya barang sedetik pun. Karena itu yang telah ditetapkan oleh-Nya. Dia hanya menjalankan apa yang diperintahkan oleh-Nya. Tak mungkin membantah. Karena dia memang diciptakan untuk melakukan tugas itu. Memisahkan nyawa dari raga tiap manusia, ketika telah sampai waktunya tiba.
Ya. Dia yang kumaksud adalah, Sang Maut. Izrail! Hari ini, namaku telah tertulis di atas selembar daun yang jatuh di kakinya. Dua tahun aku telah merahasiakan penyakitku padamu. Sudah lama kanker itu bersarang di otakku. Aku melakukan itu karena tak mau kamu bersedih. Aku tak sanggup melihat telaga matamu mengering. Dan kini, harus kubawa rahasia itu ke liang kuburku.
Depo… akhirnya aku hanya bisa berharap, semoga namaku akan selalu terpahat di kepingan hatimu. Seperti namamu yang akan selalu terpahat di dinding pusara hatiku. Maaf kalau kepergianku yang tanpa permisih, membuat hatimu merengkah luka.
Sudah ya, Depo… Awan hitam telah menyelimuti langit di atas kepala. Hujan sebentar lagi akan tercurah. Seperti airmatamu. Seperti airmataku. Yang akan mengiringi kepergianku. Dan itu tandanya, kamu harus segera menguburku.
Selamat tinggal!



0 komentar:

Posting Komentar

 
 
Copyright © album fiksi
Blogger Theme by BloggerThemes Design by Diovo.com