Hai…! Di manakah orang sekampung
kita?[1]
Ayo, Berdirilah lalu kita
menuangkan kesedihan kita!
Seperti sebuah seruan. Orang-orang masuk ke dalam lingkaran pa’badong[2]
di tengah lantang. Saling mengait
jari kelingking mengalirkan kedukaan yang maha. Tubuh-tubuh berbalut kain hitam
itu bergerak, ke kanan, ke kiri, ke depan, ke belakang sambil mengayunkan kedua
tangan yang terkaitkan. Bergerimit suara merapal syair. Mengenang mendiang yang
telah berpulang. Ma’badong[3].
Satu bulan lalu, Helena Rambulangi tutup usia. Sebagai keturunan
Tomanurung, menjadi kewajiban bagi keturunannya untuk merayakan kematian. Bukan masalah bagi keluarganya yang kaya raya. Sawah
terhampar berhektar-hektar. Kerbau di kandang puluhan jumlahnya siap dikorbankan.
Kematian. Sebuah akhir yang mula. Sebuah mula segala. Ke puya[4], di puya… negeri jiwa
tempat para leluhur bersemayam. Ke sana puluhan tedong yang dikorbankan siap
mengantarkan.
Aku tidak berada di sana, tapi tahu segalanya. Aku mendengar semuanya. Aku
selalu membayangkan berada di sana. Berdiri di antara pa’badong. Menari dan menyanyikan syair kedukaan. Melarut dalam
gerak dan suara sambil membayangkan dirimu yang terbujur kaku dalam erong[5] berpahat kerbau itu. Erong yang kupahat sendiri dengan tanganku.
“Ajari aku syair itu, Indok!
Ajari aku!” pintaku, merajuk kepadamu ketika untuk pertama kali kau mengajakku
ke perayaan kematian sanak keluarga kita. “Aku ingin ma’badong!”
“Kau masih kecil, Nak,” katamu sambil mengelus kepalaku, “suatu saat nanti,
kau akan menyanyikannya untuk Indok.”
“Aku mau Indok, aku mau menyanyi,
aku mau
menari. Aku mau ma’badong.”
Namun, setelah 360 hari selepas kematianmu, tak bisa aku melakukannya.
Meski syair dan gerakan itu telah kuhapal luar kepala. Segalanya seperti sia-sia.
Entahlah. Apakah harus kusyukuri takdir sebagai keturunan Tomanurung? Atau aku
harus meratapinya?
Mari
kita menguraikan kesedihan hati
Tidakkah
engaku berduka?
Tidakkah
kesedihan di hatimu?
Pa’badong terus bernyanyi dan menari. Semakin lama, lingkarannya
kian membesar. Tubuh-tubuh berbalut kain hitam itu berjalan ke depan ke
belakang sambil mengayunkan kedua tangan yang terkaitkan. Kesedihan mengepung
langit di atas Rantepao.
Aku tidak berada di sana dan tak akan pernah berada di sana, tapi aku tahu segalanya.
Aku mendengar semuanya. Aku selalu membayangkan berada di sana. Berdiri di
antara pa’badong. Menari dan
menyanyikan syair kedukaan. Melarut dalam gerak dan suara sambil membayangkan
dirimu yang terbujur kaku dalam erong berpahat
kerbau itu.
Seperti ketika aku masih berseragam putih biru. Kautuntun aku masuk ke
dalam lingkaran pa’badong.
“Tapi aku tak hafal syairnya, Indok,”
kataku tampak canggung.
“Dengarkan dan ikuti,” ujarmu sambil tersenyum.
Aku menautkan kelingkingku ke kelingkingmu. Lalu menajamkan telinga.
Berusaha menangkap setiap kata yang terlafal dari mulut pa’badong. Seperti dengungan ribuan lebah. Bergerak sambil terus
bergerak mengikuti irama. Maju. Mundur. Aku tersirap kata-kata. Tiba-tiba saja,
bibirku sudah merapal syair-syair seolah aku telah menghafalnya sejak lama.
Namun, setelah 360 hari selepas kematianmu, aku hanya bisa duduk di depan erong-mu. Berbicara kepadamu, seolah-oleh nyawa masih
bersemayam dalam tubuh kakumu. Mereka belum mau menganggapmu mati, sebelum aku
merayakan pesta kematian untukmu. Pesta kematian bagi perempuan bergelar puang
keturunan Tomanurung.
Padahal, semua kerbau dan babi milik kita sudah habis seluruhnya untuk
merayakan pesta kematian Ambe’. Hanya
tedong itu, tedong bonga pemberianmu, yang tersisa di dalam kandang kita.
Ah, mengapa begitu lekas kau menyusul Ambe’?
Sehabis
ratapan memanggil ibunya;
Putuslah
angin pada mulutnya;
Habislah
jiwa pada badannya
Bagaikan suara
lebah. Mendengung dan terus mendengung seolah memanggil sesiapa untuk masuk ke
dalam lingkaran pa’badong di tengah lantang[6]. Lingkaran itu
bagaikan semesta kesedihan yang menyedot siapa saja untuk larut dalam kenangan
akan mendiang.
Aku tidak berada
di sana dan tak akan mungkin berada di sana, tapi aku tahu segalanya. Aku
mendengar semuanya. Aku selalu membayangkan berada di sana. Melafalkan
kedukaan. Melarut dalam kesedihan yang maha seraya mengenang perjalanan
hidupmu. Menapaki jejakmu pada lantai kayu dan anak tangga di tongkonan[7] kita.
“Menangislah,
Nak, menangislah,” katamu, “jika itu bisa menghapus kesedihanmu. Nyanyikan saja
dukamu.”
“Indok, jangan tinggalkan aku,” mohonku
ketika itu.
“Setiap orang
pasti mati, Nak,” rintihmu, “di puya,
di puya… negeri kita yang abadi.”
“Dengan apa aku
mengantarmu ke puya? Tedong yang kita
punya hanya tinggal seekor saja.”
“Menyanyilah,
Nak,” pesanmu, “tarikan dukamu bersama pa’badong,
pada tiap-tiap perayaan kematian. Syair-syair yang kaulafalkan akan
mengantarkanku ke puya.”
“Indok….”
“….”
Namun, setelah
360 hari selepas kematianmu, tak juga aku mampu memenuhi permintaanmu. Percuma.
Nanyian dan tarian saja tidak akan mengantarkanmu ke surga. Begitu kata mereka.
Tak ada puya tanpa tedong bonga bagi seorang
puang Tomanurung. Seekor tedong bonga pemberianmu tak akan cukup membawamu ke puya. Masih perlukah aku ma’badong?
Bersama dengan asap bara api
Diikut-ikuti oleh awan
Ke selatan negeri tuhannya jiwa di negeri
jiwa
Syair ratapan
dilantunkan. Duka mengapung di atap bumi Rantepao. Orang-orang masih
berdatangan. Sebagian memenuhi lantang. Sebagian turut bergabung dalam
lingkaran bersama pa’badong,
melantunkan syair ratapan. Menangisi keniscayaan kematian.
Aku tidak berada
di sana dan tak akan mungkin berada di sana, tapi aku tahu segalanya. Aku
mendengar semuanya. Aku selalu membayangkan berada di sana. Menyaksikan
kerbau-kerbau itu diarak sebelum diikatkan pada menhir-menhir peninggalan masa
silam sebelum di bawa ke tengah lapangan, siap untuk dikorbankan.
“Apakah
kerbau-kerbau itu akan membawa Ambe’ ke
puya, Indok?” tanyaku, saat menyaksikan puluhan kerbau yang kita pelihara
dikorbankan untuk merayakan kematian Ambe’.
Kau tidak
menjawab ketika itu. Hanya wajahmu menatap ke langit. Lalu jari telunjukmu
menuntun pandanganku.
“Kerbau-kerbau
itu, Indok!” ujarku, takjub menunjuk
ke langit, “Mereka di sana, mereka di sana bersama Ambe’!”
Sebentar lagi.
Ya, sebentar lagi… kerbau-kerbau itu akan mengantarkan Helena Rambulangi ke puya.
Namun, 360 hari
selepas kematianmu, hanya seekor kerbau belang pemberianmu yang aku miliki.
Apakah babi-babi pemberian sanak saudara kita cukup untuk mengantarmu ke puya?
Aku hanya anak muda yang tak punya pekerjaan kecuali memahat tau-tau dan kerajinan lain. Telah
kubuatkan tau-tau terindah untukmu.
Mereka pasti akan sulit membedakannya dengan dirimu.
Ah, rasanya
sia-sia kubuat tau-tau itu. Ia tak
akan mampu mengantarmu ke puya.
Rasanya tak mungkin aku mendapatkan kerbau-kerbau itu. Apa boleh buat,
pekerjaanku memahat hanya cukup untuk membuatku tak kelaparan. Dengan apa aku
akan mengantarkanmu ke puya?
Ke selatan
ujungnya langit
Ke selatan
negeri tuhannya jiwa
Di sana negeri
orang yang bersedih
Syair berkat
telah dilantunkan. Keselamatan telah dimohonkan. Kerbau-kerbau digiring ke
tengah lapangan, siap diadu sebelum dikorbankan. Orang-orang berkumpul
melingkari arena menanti kerbau-kerbau itu saling beradu tanduk.
Aku tidak berada
di sana dan tak akan mungkin berada di sana, tapi aku tahu segalanya. Aku
megenang semuanya. Aku selalu membayangkan berada di sana. Mengenang kerbau belang
kita yang jadi pemenang saat perayaan kematian Ambe’. Satu-satunya kerbau yang tersisa dalam kandang milik kita. Aku
teringat pesanmu.
“Pelihara dia
baik-baik,” wasiat Indok saat sakit tak lagi menemukan obatnya. “Kau lebih
membutuhkanya daripada aku.”
“Lalu dengan apa
Indok ke puya?” tanyaku memeram kesedihan.
“Dengan
syairmu,” kata Indok memaksakan untuk
tersenyum, “syair yang selalu kita nyanyikan bersama pada tiap-tiap ma’badong.”
“Tak ada puya tanpa tedong bonga, Indok.”
“Percayalah
kepadaku.”
Kini, 360 hari
selepas kematianmu, syair-syair itu mendengung-dengung terus di kepalaku. Tanpa
kusadari, aku mulai menari sambil melafalkan syair kedukaan di hadapanmu.
Sendiri. Ya, hanya seorang diri. Sambil membayangkan dirimu berada dalam erong tempat Helena Rambulangi
disemayamkan. Mereka tak akan menyadarinya dan tak pernah akan menyadarinya.
Aku terus menari
dan bernyanyi melantunkan kedukaan. Bergerak ke depan dan ke belakang
sendirian. Hingga dari jendela kamar yang kubiarkan daunnya terbuka, ternampak
dirimu di atas sebuah kerbau belang diiringi ratusan kerbau yang bergerak dan
terus bergerak ke langit. Ke puya… di
puya… negeri para leluhur berdiam.
Pulokambing, 13/12/12
[1] Terjemahan syair-syair ini
diambil dari makalah Badong Sebuah Tari
dan Nyanyian Kedukaan di Tana Toraja yang disusun oleh Harliati, Mahasiswi
FIB UI.
[2] Orang yang menari dan
menyanyikan syair kedukaan
[3] Melakukan tarian dan menyanyikan
syair kedukaan
[4] Surga
[5] Peti mati
[6] Rumah-rumah
bambu yang didirikan saat upacara Rambu Solo’
[7] Rumah
adat suku Toraja berbentuk seperti perahu, selalu menghadap ke arah utara

0 komentar:
Posting Komentar